Minggu, 12 Februari 2012

Gemuruh Kerinduan

Gelora air berombak menyapu pasir hitam pantai, meretas malam sunyi di pinggiran pandang khatulistiwa. Dimalam sedingin pagi buta ini aku tergiang sebuah wajah elok disertai rasa rindu menyeruak ke permukaan. Ku dekap erat bayangmu. Kemudian ku sematkan rindu ini di antara api cinta yang masih menyala.

Apa kabar hidupmu disana? lama sudah aku tak melihat dirimu. Kuharap engkau tetap baik-baik saja dengan dirimu ataupun dengan kesetiaanmu. Kuharap
engkau masih berada di tempatmu yang nyaman dan menunggu kepulanganku. Bukan hanya karena kita memiliki hubungan yang istimewa atau inspirasi yang pernah kau berikan untukku. Namun terlebih, karena kau begitu mengerti kondisi dan keadaan psikisku hingga mampu mengerti aku dengan sempurna. Sampai saat ini setidaknya aku masih bisa bertahan menghadapi rindu ini. Tetapi aku tak yakin esok ataupun lusa kan bisa seperti ini. Tak sadar bertebaran rintik hujan membasahi keningku. "Awan hitam sengaja kah engkau mewakili fikiranku?" tanyaku dalam hati. Tak sampai 5 menit hujan telah membasahi. Kemudian kenangan tentangmu merasuk masuk dalam jiwaku. Kau yang menunjukkan padaku betapa arti cinta yang dalam lewat lembut katamu, lewat tatapan matamu. Hal yang masih sulit untuk sekedar ku menyimpannya sendiri.

Seperti kala itu saat kita berdua menikmati keindahan pantai dan berkejaran di pinggiran ombak. Saat itu aku terlalu takut basah oleh ombak yang menyentuh bibir pantai. Kau terlihat agak kesal tapi kita tetap bisa menikmati semua dengan indah. Atau saat orang lain terlalu ikut campur dengan masalah kita berdua, kita tetap menghadapi dengan kedewasaan. Maklum kita hidup di dunia dimana gosip-gosip murahan dan sampah-sampah jalanan bertebaran dengan congkak di sana-sini. Dan mereka merasa berhak menafsiri apapun yang mereka lihat.

Kisah kita memang tak sesederhana yang kutuliskan, ada tahapan keruwetan dan kerumitan yang sulit difahami oleh Albert Einstein sekalipun. Ini hanya tulisan yang takkan berarti apa-apa dan takkan mengubah apa-apa juga. Tulisan yang sekedar mewakili perasaanku saat ini.

Aku sadar betul kali ini kita sedang diuji, dengan hubungan jarak jauh ini. Memang tak sepantasnya berlebihan menghadapinya. Anggap saja ini merupakan wujud nyata tindakan dari apa yang dimaksud kesetiaan yang ingin kita jaga sampai nanti, sampai bertemunya maut mungkin. Karena aku dan kau menyadari bahwa seseorang tidak  selalu menyertai langkah di hidup. Ada kalanya kita harus berpisah untuk sementara waktu. Berpisah untuk kembali bersama dan untuk hari yang lebih baik (lagi).

Gemuruh guntur menggetarkan seisi semesta, geraian angin malam menjumputi kulit yang tak tertutup. Tak terasa malam telah semakin merambat merapat menuju tengah. Kurebahkan tubuhku seraya masih kuingat indah bayangmu yang memenuhi fikiran dan bahkan menyesakkan rongga dada.


Aku tidur dulu sayang, besok ada kuliah
kamu juga harus tidur
selamat tidur, selamat bermimpi

4 komentar:

  1. hahahaha............
    aku sangat tersanjung.

    BalasHapus
  2. we ke trah nduwe bakat lebay......

    BalasHapus
  3. ugag ae, kui kan hanya sebuah ungkapan to, wek

    BalasHapus