Malam tiada berbintang, mendung semenjak sore, apalagi
dingin yang njengkut ini. Sungguh suasana yang mengabarkan malam akan berbasah
ria. Namun kami tidak mengendurkan niat bahkan tidak peduli dan segera berlari menuju tempat biasa, atau
kebiasaan malam minggu. Dunia balap liar malam. Hal itulah yang sering terlihat
dua tahun lalu bersama hari penuh
keliaran. Mengadu dan membuat bangga. Totalitas dan kecenderungan yang tinggi
bagi kami untuk menjalani malam-malam penuh kesombongan pada awal 2010.
Balapan, hanya kata itu yang selalu berdengung diantara kawan-kawan. Bukan
balap resmi yang diwarnai oleh umberella girl ataupun paddock yang tertata
rapi. Tetapi balapan liar yang bagi kami saat itu adalah hal yang keren, kami ingat, kami
sangat menikmati hembusan angin ketika memacu motor dijalanan yang terasa bagaikan trek atau ketika kami lolos dari penggrebekan polisi
yang membabi buta. Kami masuk didunia ini bukan hanya untuk sekedar untuk
terlihat keren ataupun untuk sekedar bisa menghina orang lain karena kalah
balapan dengan kami. Namun alasan kami adalah gabungan dari dua hal
diatas.
Sabtu, 12 Mei 2012
Jumat, 20 April 2012
Terkait Pungutan dan Surat Rekomendasi Pengulak Bensin
Ponorogo kini lahir bibit-bibit persengkongkolan
korporasi pada tingkat kecamatan. Paling tidak aksinya kini lebih terstruktur
dan beralasan. Sebagai contoh diharuskannya pengecer bensin membawa/memiliki
surat izin jika membeli bensin di SPBU dimanfaatkan sebagai ladang mencari
tambahan penghasilan oleh para pegawai kecamatan nakal yang menangani surat
permohonan izin. pegawai tersebut juga mengakui dan berdalih bahwa ini adalah
'uang lelah'. Hal tersebut terungkap setelah adanya inspeksi yang dilakukan oleh penyidik inspektorat kabupaten Ponorogo.
Kamis, 15 Maret 2012
Biadabnya Torabika Malam Ini
Akhirnya gw percaya efek domino dari sesuatu yang kecil bisa berakibat sangat fatal, jadi gini ceritanya di malam yang sesunyi ini, aku sendiri tiada yang menemani (bukannya itu lirik lagunya Peterpan?). ah, ngaco. Gini ni, tadi malam gw kan lagi nulis, biasalah tulisan bodoh yang membuat muntah siapa saja yang membacanya dan bisa jadi alat bunuh diri paling ampuh. Malam itu gw ditemani segelas kopi, kopi tersebut
Rabu, 07 Maret 2012
Bertahtakan Mendiang Kegelapan
Gaun malam langit mulai bergerai
Diantara bilas kasih rembulan tepian timur
Selaksa rinai sejukmu mengalun lembut, menggetarkan lentera jiwa
Ribuan kertas dan pena tersungkur di sampingku
Merah cinta mendera kesempitan jiwa menggapai rinai indahmu
Ku terbias dan melerai lentera membakar pesonamu
Hari penuh noda sudah ku lalui bersama mimpi tiada pasti
Aku merindu, dimana satu titik kehidupan kulalui bersamamu
Mengendapkan pesona tiada akhirmu dalam hati terdalam
Harapan pagi sudah kujamah dan kusimpan
Tajam..........
Kulihat perangai itu menusuk dalam ruang batinku
Samar samar aku merasakan pelukmu hadir bersama hangat cintamu
Padamnya mata dunia
Tak mampu menghentikan segala resapan syair elegi memilukan
Aku lebih dari sekedar tertunduk diam
Namun terlebih, karena aku tertampar lepas merangkai bulanan kesempatan
Aku merindukanmu
Jumat, 02 Maret 2012
Debat yang Tak Mungkin Kita Menangkan
Malam beranjak menuju pagi mengakhiri perdebatan saya dengan sang pacar atau mungkin bisa disebut juga sebuah pertukaran fikiran yang alot, keras dan menyayat. Puluhan opini keluar, ratusan sanggahan terlontar. Perdebatan yang sukses membuatnya marah untuk beberapa waktu. Bicara ini itu, kesana kemari, bla bla bla tanpa menghasilkan suatu keputusan pasti. Debat yang dimulai dari
Minggu, 26 Februari 2012
Kala Negara Bukan Naungan yang Indah

Sudah banyak yang mencela negara ini, sudah banyak mandat-mandat yang diberikan agar negara ini mulai mengubah atau setidaknya memerbaiki semua kenyataan yang mereka dapati. Saya sendiri masih bingung dengan apa itu yang disebut dengan kata "negara". Karena saya hidup dengan kenyataan berjalan dengan sendirinya. Lalu apa peran negara sesungguhnya? Apakah negara hanya penyebutan suatu naungan masyarakat tertentu atau pemberian nama suatu wilayah yang terbatas. Yang saya dengar pengertian negara
Minggu, 12 Februari 2012
Gemuruh Kerinduan
Gelora air berombak menyapu pasir hitam pantai, meretas malam sunyi di pinggiran pandang khatulistiwa. Dimalam sedingin pagi buta ini aku tergiang sebuah wajah elok disertai rasa rindu menyeruak ke permukaan. Ku dekap erat bayangmu. Kemudian ku sematkan rindu ini di antara api cinta yang masih menyala.
Apa kabar hidupmu disana? lama sudah aku tak melihat dirimu. Kuharap engkau tetap baik-baik saja dengan dirimu ataupun dengan kesetiaanmu. Kuharap
Langganan:
Postingan (Atom)
