Labels

Tampilkan postingan dengan label The Other Side. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Other Side. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Desember 2014

Bukan Stensilan Murahan



Judul : Seperti Dendam. Rindu Harus Dibayar Tuntas
Pengarang : Eka Kurniawan
Tahun Terbit : 2014
Penerbit : Gramedia

Ini buku kedua dari Eka Kurniawan yang selesai saya baca bulan November kemarin. Setelah sebelumnya menyelesaikan membaca buku Eka yang lain Lelaki Harimau pada bulan yang sama. Saya membaca buku ini lebih cepat dari membaca Lelaki Harimau, tidak lebih dari tiga hari meski dengan halaman yang lebih banyak. Narasi dan kalimat dalam Seperti Dendam... juga lebih singkat-singkat dan ringan atau remeh temeh saja. Tapi itulah kekuatan Eka, membuat basa-basi yang biasa saja menjadi sebuah lakon yang terlalu sulit untuk tidak diperbincangkan. 

Ide keseluruhan buku ini juga terkesan sangat sederhana jika tidak dikatakan remeh pula. Burung yang tidak bisa berdiri. Burung yang tidak berdiri yang lantas menggiring pada kejadian-kejadian setelahnya. Khas yang dilakukan seperti sebelumnya dalam Lelaki Harimau, alur cerita yang berhamburan dan berantakan, namun kita masih bisa dengan lancar mengikutinya, tanpa harus mengernyitkan dahi dan mengulang membaca. Dalam Seperti Dendam alur maju mundur yang di solek dengan cerdas, rasanya semua mengalir begitu lancar dalam imajinasi, setidaknya itu yang saya rasakan.

Pada suatu malam masalah bermula. Dua orang polisi menyetubuhi seorang perempuan gila, Rona Merah, Ajo Kawir dan Si Tokek mengintip melalui jendela. Si polisi mengetahui dua bocah itu, Si Tokek berhasil kabur, tapi nahas bagi Ajo Kawir, ia digelandang masuk ke rumah Rona Merah oleh polisi itu. Tak sampai disitu Ajo Kawir dipaksa si polisi menyetubuhi Rona Merah juga, semenjak malam itulah burung Ajo Kawir tak bisa ngaceng, setelah menyaksikan selakangan Rona Merah. Entah karena jijik, gugup atau apa. Setelah burung Ajo Kawir tak bisa lagi berdiri bersama kawannya Si Tokek, Ajo Kawir melakukan segala cara untuk membangunkan si burung, sampai-sampai Iwan Angsa ayah Si Tokek ikut turun tangan membantu Ajo Kawir. Kadang dengan sesuatu yang ekstrim seperti mengoleskan cabai rawit, menyengatkan lebah karena teringat dengan pengobatan dengan metode sengat lebah, dan menyewa pelacur dekat rel kereta. Tentu saja semua itu sia-sia, burung Ajo Kawir terlanjur terlelap dalam tidur. “Tidak ada yang lebih menghinakan pelacur kecuali burung yang tak bisa berdiri.” Kata pelacur yang putus asa itu.

Hancur sudah semua masa mudanya tanpa burung yang tak bisa berdiri, masa muda tanpa libido. Masa muda yang kata orang indah itu, menjadi mimpi buruknya. Hal ini membuat Ajo Kawir mengalihkan hari-hari masa mudanya dengan berkelahi. Menantang siapapun. Berbekal nyali, karena kemampuan berkelahinya juga tak bagus-bagus amat. Kadang dengan sengaja mencari gara-gara dengan orang-orang. Hanya untuk pulang babak belur, demikian itu terulang lagi dan lagi.

Suatu kali Ajo Kawir menemukan lawan berduel yang seimbang, seorang perempuan yang sebelumnya diremehkannya, namanya Iteung. Bertarung berjam-jam lalu keduanya terkapar bersama di rerumputan dekat kebun pak Lebe. Tak disangka cinta datang pada saat itu pula, saat keduanya terkapar dan saling pandang satu sama lain. Singkatnya mereka kemudian menikah, dengan burung Ajo Kawir yang tetap dalam dengkuran. Hal yang tak disangka-sangka datang, Iteung hamil entah benih siapa. Mana mungkin burung Ajo Kawir yang tak bisa bangun bisa memberinya benih. Ajo Kawir jelas geram, lalu pergi menjadi supir truk di Jakarta sambil mencari ketenangannya. 

Burung yang tidur justru mengajari Ajo Kawir mengenai kebijaksanaan, “Kehidupan manusia hanyalah impian kemaluan kita. Manusia menjalaninya saja.” Kata Ajo Kawir sekali waktu. Lebih dari itu dalam sunyi dialognya dengan si burung membuat ia memutuskan berhenti berkelahi. Serupa taubatan nasuha seorang pendosa, bahkan ketika keneknya Mono Ompong hampir mati berduel dengan Si Kumbang, Ajo Kawir tetap tenang dengan pandangannya.

Ditengah perjalanan yang melelahkan menjadi supir truk itu, Ajo Kawir bertemu dengan perempuan bernama Jelita. Merupakan ironi Jelita yang sebenarnya adalah buruk wajahnya tak sesuai namanya. Jelita datang serupa penyelamat yang datang terlambat, setelah Ajo Kawir menerima semua keadaannya. Karena akhirnya Jelita lah yang mampu membangunkan si burung yang tidur. Memberi Ajo Kawir kenikmatan bercinta untuk pertama kalinya dan lenyap begitu saja setelah burung Ajo Kawir bangun.

Kesamaan dengan buku Eka yang saya baca sebelumnya ialah tokoh Ajo Kawir dan Margio selalu menegak bir ketika ada masalah. Kata Ajo Kawir “Bir merupakan sahabat bagi semua lelaki sedih.” Dan keduanya memang lelaki pesakitan. Terasing dalam dunianya sendiri. Persamaan lain tentunya alur yang bergerak dengan sangat licin.

Eka menyisipkan humor-humor abu-abu pada buku ini, juga pada Lelaki Harimau. Terkesan sangat elegan. Memang sedikit terlambat saya mengenal karya-karya Eka, saya mengenal belum lama ini, beberapa bulan lalu ketika membaca sebuah review aduhai mengenai buku Lelaki Harimau pada sebuah blog personal. Beberapa waktu setelah merasa cukup uang untuk menebus buku, saya menebusnya. Pertama Lelaki Harimau, tidak mengecewakan, sebarang 15 hari saya membeli Seperti Dendam yang sejatinya telah terbit bulan mei lalu.

Rabu, 10 September 2014

Pentagon

Aku ingin menyelipkan duka dengan kata-kata
Pada setiap gelintir timbunan dendam dan perang
Sebelas september tahun dua ribu satu
Ketika dunia mendadak menjadi silu
Mendadak masam, dan langit kusut muka

Ah, aku tidak sedang berduka padamu Amerika
Aku bersungkawa karena kemanusiaan begitu murah
Sehingga suatu ketika orang-orang menemukan sebuah katarsis
Pada lembaran 20 dolar

Adakah konspirasi adalah sebuah keniscayaan?
Adakah keniscayaan ini berasal dari konspirasi?

Selasa, 20 Mei 2014

Yang Tersisa dari Praktik Kerja Lapangan


Tanggal 14 Mei lalu menjadi akhir saya di tempat yang kemudian kusebut sebagai pengalaman kerja pertama ini. Saya telah begitu banyak belajar dari tempat PKL ini. Bukan saja ilmu, malahan saya rasa ilmu yang saya dapat dari sini tidaklah sebanyak pengalaman yang saya dapat ,mengenai sisi humaniora. Sebagai manusia untuk lebih manusiawi lagi.

Dalam waktu ini saya ingin menyampaikan terimakasih banyak kepada semua rekan, karyawan dan warga sekalian. Kami telah diajarkan banyak hal. Tidak ada yang lebih pantas kami sampaikan selain permintaan maaf karena telah menyusahkan kalian selama ini. Satu hal yang benar-benar saya yakini sekarang adalah perihal pengetahuan itu banyak terdapat di buku-buku, tetapi dari semua itu lebih penting bagi kita untuk mendapatkan pengetahuan tentang hidup. PKL hanyalah satu sisi lain yang saya dan kawan-kawan lain lakukan tak lebih untuk memenuhi tugas akhir sebenarnya.

Ingin sekali saya sampaikan terimakasih yang begitu besar bagi Ahmad Fauzi, bukan saja karena telah memberikan kami waktu libur selama 10 hari untuk pulang kampung, tetapi sebagai pembimbing lapangan kami yang telah memberikan beberapa wejangannya yang berharga kepada kami ini. Kepada bang Buluk yang beberapa kali saat kami datang membikinkan kopi teko yang bahkan sampai sekarang masih kami harapkan untuk tersaji setiap hari. Bang Dartok dengan segala keramahan dan pelajaran tentang ternak ayam. Bang Lebeng dengan gaya tak bersalahnya yang pada suatu hari kemarin sempat menemani kami berburu lindung. Bang Alih, kami rindu lelucon-lelucon gila mu, iya guyonan tentang tukang ngarit yang ngondek disebelah empang. Tingkah jahil yang tak pernah ada bandingannya diantara kawan lain disitu. Terakhir adalah bang Rolli yang saya sebenarnya masih sedikit menyimpan sebuah rasa penasaran. Termasuk ketika beberapa kali mendengar cerita tentang bang Rolli dari mas Ahmad Fauzi.

Tak terhitung tawa bersama saat disini, beberapa pengalaman baru yang tak akan saya bilang sebagai pengalaman biasa. Suatu saat kami mungkin akan merindukan hari-hari seperti ini walaupun pada saat PKL kami selalu berharap agar PKL ini cepat-cepat selesai.

Terima kasih, kami doakan beliau-beliau sehat selalu.

Senin, 28 April 2014

Beberapa Penegasan

Kadang beberapa orang bertanya mengapa saya menulis tentang musik, mengapa hal seremeh lantunan nada itu mesti ditulis atau mungkin dimaknai. Apa gunanya? mereka juga menyarankan untuk menulis yang lebih penting daripada sekedar memaknai sebuah bebunyian.

Saya hanya berkata ‘terimakasih atas sarannya’. Taufiq Rahman dalam sebuah esai yang berjudul Menulis Musik adalah Menulis Tentang Manusia mengatakan bahwa Menulis musik menjadi sulit bukan karena keharusan untuk meninterprestasikan warna suara atau harmoni dari beberapa instrumen yang berbeda. Menulis tentang musik menjadi sulit karena menulis musik pada akhirnya menulis tentang manusia. Ya pada akhirnya menulis musik adalah menulis tentang hal-hal yang sebenarnya berkaitan dengan kehidupan manusia dan menulis tentang musik yang dimaksud bukan hanya tentang memperkirakan suara yang diperdengarkan.

Banyak yang menulis tentang musik jauh ke dalam interpretasinya terhadap sebuah karya seni. Saya juga tak pernah mengenyam sekolah musik, saya tidak pernah mengerti tentang teknik legato, bending, atau juga sweep picking. Saya hanya menulis musik dengan label sebagai ‘penikmat’.

Saya memutuskan berhenti mendengarkan musik-musik arus utama setelah saya menyadari tak akan banyak yang saya dapat dari sana. Sebelum saya menyadari bahwa kualitas sebuah karya dihasilkan dari sebuah proses yang tidak biasa yang melatarbelakanginya. Saya lebih tertarik dengan sesuatu diluar sebuah karya itu dibuat, daripada harus mendengarkan karya yang dibidik karena memenuhi permintaan pasar atau karena keperluan kontrak.

Konsekuensinya saya lebih suka dengan hal-hal yang terjadi dibalik layar. Lebih suka mengait-ngaitkan sebuah karya dengan sesuatu yang lain. Lebih banyak berkomentar tentang mungkin saja sebuah lagu bisa menjadi soundtrack dalam sebuah aksi sosial atau juga sebuah lagu protes sosial. Daripada sekedar membahas teknik vokal sang penyanyi atau apakah gitarisnya menggunakan teknik bla bla bla dalam lagunya. Saya yakin musik yang bagus dihasilkan dengan sebuah proses kreatif, dan bukan karena dalam rangka memenuhi selera masyarakat. Musisilah yang harusnya membentuk selera itu. Musik bukan sesederhana teori bisnis yang hanya berfokus untuk memuaskan pelanggan.

Dulu saya tinggal di daerah pinggiran sehingga tak banyak akses untuk musik. Hanya musik-musik mainstream yang banyak terdengar di gadget-gadget kawan-kawan yang berbagi musik melalui piranti bluetooth. Dulu di tangkringan kawan-kawan hanya musik reggae yang menjadi sebuah warna tersendiri yang kadang membuang kebosanan tentang hidup yang cinta-cintaan. Sehingga saat ini setiap ada senggang kuliah saya memanfaatkan untuk mencari musik-musik, hanya saja tidak jauh-jauh dari kampus dan juga banyak mendengar musik dari berbagai negara. Saya mendengar musik asing dari yang asing yang tak pernah terbayangkan.

Pengaruh dalam beberapa musik juga lah yang sedikit banyak membuat saya selanjutnya berkawan baik dengan buku. Mendorong untuk menulis. Karya seni itu bisa dimaknai oleh pendengarnya dengan sangat beragam. Jadi saya pikir kenapa saya tak melanjutkannya untuk menulis. Walaupun itu personal dan hanya saya rasakan sendiri.

Minggu, 20 April 2014

Merumitkan Tulus


Saya selalu suka dengan kesederhanaan. Saya selalu suka menebak-nebak sesuatu dengan perasaan. Termasuk ketika pertama kali melihat cover album dari Tulus pada album barunya yang diberi tajuk Gajah. Menurut saya ini pasti adalah musik yang keren, covernya saja estetik. Backgroud hitam sesosok wajah yang terpotret dari samping dan tulisan Tulus dengan huruf biasa-biasa saja dengan penempatan yang juga biasa.

Kali ini saya tak salah, Tulus secara singkat membawa saya pada hal yang belum sempat saya lakukan, yaitu memberi waktu musik genre jazz untuk lebih lama terdengar ditelinga. Saya dulu jarang sekali mendengar lagu-lagu dari musisi jazz karena saya pikir musik ini sudah habis. Tidak kali ini, Tulus rasanya telah membuka jiwa saya untuk lebih banyak mendengar lagi. Album ini seperti menggenapi tagihan diri saya sendiri terhadap musik jenis ini.

Secara singkat lagu-lagu dari Tulus menceritakan cerita sehari-hari. Cerita sehari-hari yang terlalu biasa namun dikemas dengan luar biasa, dari sudut pandang yang luar biasa pula. Rasanya pada album ini juga tak lepas dari tema cinta, pada beberapa lagu. Disinilah letak perbedaan lain Tulus. Dia menggunakakan kata cinta dengan sangat pas, tidak berlebihan, dan tidak terkesan murahan.

Pada lagu Bumerang, Tulus menceritakan sebuah penghianatan dengan sangat tidak biasa dengan tidak ada rasa sedih tetapi malah mencoba membalas sebuah penghianatan yang ia terima. Lagu lain pada album ini adalah Sepatu, ini salah satu lagu favorit saya. Tulus menggunakan hal yang remeh yaitu sepatu dalam menganalogikan sepasang kekasih yang tak bisa bersatu. Kita adalah sepasang sepatu//selalu bersama tak bisa bersatu//Kita mati bagai tak berjiwa//Bergerak karena kaki manusia. Walaupun mereka selalu ingin bersama ada jarak yang memisahkan, ada hal lain yang tak bisa mereka ingkari. Kita sadar ingin bersama//Tapi tak bisa apa-apa//Kita sadar ingin bersama//Tapi tak bisa apa-apa//Terasa lengkap bila kita berdua//Terasa sedih bila kita di rak berbeda//Di dekatmu kotak bagai nirwana//Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya. Pada akhirnya hanya untuk menyadari bahwa cinta tak selamanya bisa untuk disatukan Cinta memang banyak bentuknya//Mungkin tak semua bisa bersatu.

Lagu yang dijadikan judul album ini sendiri ada pada urutan ke 6. Lagu dengan judul gajah ini juga sebuah perumpamaan. Sebuah konotasi yang (kemungkinan) ditujukan untuk dirinya sendiri. Gajah diumpamakan sebagai sebuah olokan, dalam makna lain olokan ini adalah sebuah pujian yang tak disadari. Penegasan pada lagu ini adalah bahwa sesuatu yang buruk itu belum tentu akan menjadi menjadi sebuah keburukan bagi kita. Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik.

Sejauh ini Tulus telah mengeluarkan 2 album, saya memang baru saja mendengarkan beberapa lagunya. Saya sama sekali belum ‘menyentuh’ album pertamanya. Tentu saja saya pertama kali tahu dia saja dari cover albumnya yang saya tebak-tebak. Tapi dengan sedikit lagu yang sudah tuntas saya dengarkan pada album ini sudah cukup menjadi bagi saya untuk memutuskan menjadikan musiknya sebuah candu.

Gaya vokal Tulus terkesan tidak ngoyo. Enteng ditelinga dan khas. Ketika langit mulai mendung dan bau petrichor mulai tercium dengarkanlah lagu ini. Vokal ringan, kemerduan sebuah balutan jazz, dipadu lirik yang kuat, lugas, dan elementer.

Minggu, 23 Maret 2014

Dendang Maut Belukaria Orkestar


Sebenarnya saya malas untuk menulis lagi tentang review seperti ini. Ya, saya sudah banyak mencoba menulis review seperti ini, hasilnya cukup monoton dan membosankan, selain itu kadang sesuatu yang saya rasakan tak bisa untuk sekedar diungkapkan dengan tulisan ataupun kata. Kadang saya merasa bahasa terlalu sempit untuk bisa mewakili kenyataan sebenarnya. Tetapi ini mungkin terasa seperti hutang jika saya tidak membuat review tentang band luar biasa asal Palembang, Semakbelukar. Saya ingat bahwa tujuan saya menulis adalah untuk menghindari kelupaan tentang apapun. Setidaknya ini layak ditulis karena sudah mengubah pandangan saya tentang suatu hal.

Sebelumnya saya tak pernah suka dengan aliran musik melayu. Alasannya memang terlalu dangkal saat itu untuk menilai musik melayu dari media yang mengecap band-band  yang beredar dipasaran, yang memenuhi layar kaca setiap pagi di acara musik, yang telah membuat citra musik melayu bagi saya menjadi buruk. Band-band melayu mainstream yang seragam dan cengeng  adalah sebuah keboborokan yang dipelihara. Dan Semakbelukar adalah sebuah anomali mungkin, jika mungkin melayu yang sejati itu relatif bagi setiap orang. Semakbelukar adalah sebuah penawar dari semua itu, semacam relevation yang pas diujung senja tiba dan keheningan beranjak.

Bagi saya mereka cukup bangsat untuk sebuah band yang mulai dikenal, malah kemudian mereka memutuskan untuk bubar.  Entahlah apapun alasan mereka dalam keputusan ini, yang jelas mereka telah membuat banyak orang kecewa dan bertanya-tanya. Kenapa harus bubar sekarang.

Saya banyak menangkap lirik lagu mereka adalah merujuk kepada kritik sosial. Kritik sosial yang dikemas dengan luar biasa dan cadas. Lewat metafora-metafora kata yang saya yakin dibutuhkan waktu dan proses kreatif yang mumpuni sebagai sebuah pemberontakan. Semakbelukar memang eksotis, secara visual saja melihat alat musik musik yang mereka gunakan adalah terlampau sederhana. Siapa sangka gong kecil yang banyak dipakai tukang es keliling ini adalah bagian dari musik mereka.

Ketika David Hersya mulai melantunkan suara, saya pun luruh merendah menikmati lantunan yang lebih mirip muadzin saat adzan ini. pada lagu Kalimat Satu yang dimulai dengan permainan akordeon lalu dentuman gendang yang teratur. Ketika kita sudah bosan dengan musik yang ada saat ini, Semakbelukar adalah kesempatan yang bagus untuk Anda menikmati dendang ringan yang mendayu-dayu. Mereka sama sekali tidak terlihat njlimet dan berskill tinggi. Cukup sederhana untuk sebuah band, kesederhanaan yang justru mungkin saja bisa memunculkan sesuatu yang lebih rumit jika kita menyimak mereka dengan lebih dalam.

Kalian tahu bahwa tampilan luar selalu menipu kan? Semakbelukar memang terlihat biasa-biasa saja. Sebelum saya menemukan bahwa ada sesuatu yang menarik dari band ini. Pada saat semua manusia bisa dibilang menuju ke arah yang semakin modern. Mereka malah memilih hal yang sangat kuno dan tradisional, dan mungkin ini yang luput dari kita. Ternyata sesuatu yang kuno itu terasa lebih modern dari apa yang disebut modern itu sendiri.

Namun, saya juga tidak begitu yakin itu satu-satunya alasan, barangkali sebagian dari kita hanya sedang bosan dengan musik saat ini yang sudah terlampau  biasa untuk telinga kita dan kita sekedar mencari alternatif lain dalam rangka pelarian untuk membunuh kebosanan itu. Saya tidak tahu, setidaknya itu adalah hal yang masih abu-abu. Saya memang belum yakin bahwa mendengarkan Semakbelukar adalah sebuah pengalaman religius, saya belum yakin. Entahlah setidaknya saya selalu punya waktu menikmati dendang mereka lewat earphone yang terpasang dilaptop. 

Sabtu, 15 Maret 2014

Tidak Akan Ada Hari yang Spesial

Selamat ulangtahun untuk diriku sendiri

Sejatinya ada yang layak ditebus dalam sebuah perjalanan usia, entah tentang kedewasaan atau kebijaksanaan. Bagi saya pertambahan usia adalah sebuah tuntutan untuk tak lagi banyak bermain, tak lagi banyak bersenang-senang. Hari ini, hari yang kemudian kusebut hari ulangtahun selalu menyingkap kesadaran-kesadaran lain. Bahwa di umur yang saat ini apa yang telah saya capai? Tidak banyak. Saya belum menghasilkan apapun dalam sebenar-benarnya sebuah ekspentasi atas seorang manusia.

Diusia saya yang saat ini dibelahan bumi lain pada masanya Bill Gates telah memulai mendirikan Microsoft atau yang lain Steve Jobs juga mendirikan Apple di usia saya saat ini. saya tidak melihat kesuksesan mereka saat ini sebagai sesuatu yang harus saya capai. Tetapi merupakan sebuah isyarat yang saya butuhkan bahwa diusia ini saya harus memulai melakukan sesuatu, entah apapun hasil yang akan saya dapatkan. Saya juga harus tetap rendah dan bersiap untuk kemungkinan terpahit sekalipun.

Barangkali saya bukan seperti kebanyakan orang yang selalu memaknai hari lahirnya sebagai sesuatu yang layak untuk dirayakan dan bersuka cita menyambutnya. Memperbuasnya dengan lagu selamat ulangtahun, beberapa pengharapan dan tiupan lilin. Saya tidak pernah atau mungkin belum pernah merasa suka cita seperti mereka dalam menyikapi hari lahir saya. memang barang tentu suka cita yang saya maksud sangat subjektif dan relatif. Sampai usia saat ini belum sekalipun saya merayakan hari ulangtahun. Iya, saya tidak mengada-ada. Bahkan seringkali dihari seperti ini saya agak bersedih, namun ada juga sedikit rasa syukur di lain sisi. Bahwa saya masih diberi hidup sampai usia ini. kesedihan yang sering saya rasakan bahwa umur saya bukannya semakin bertambah yang ada malah semakin berkurang.

Hari ini pun saya akan tetap melakukan hal-hal seperti biasa, minum kopi dipagi hari, merenung diwaktu dhuha, bersendawa seperlunya, membuang sampah, membaca buku sebelum tidur. Tidak akan ada yang istimewa hari ini, tidak ada ritual tiup lilin, dan saya tak pernah mengharapkannya. Cuma kesadaran mungkin yang akan berubah, usia hanya akan saya jadikan sebuah alasan untuk melakukan sesuatu hal yang lebih berguna dan lebih bijak. Rencana mungkin yang saya perlukan untuk mewujudkan keinginan yang ingin saya ungkapkan hanya kepada setan yang setia membuat saya malas dan ragu untuk melakukan suatu hal. ‘setan yang selalu bersetia menyertaiku, kali ini saya akan bersungguh-sungguh, aku tidak akan terlena oleh keraguan yang kau bisikkan, aku akan berbeda dari hari yang kemarin. Jika kau bersikeras tetap ingin mengangguku bekerjalah lebih keras, bila kau tidak keberatan lebih baik bantulah aku untuk memulai semua ini, juga bantulah aku untuk lebih dekat pada Tuhanku, jika itu mungkin tak memberatkanmu’.

Seberat-beratnya tantangan dalam hidup adalah masa dimana kita dalam proses keluar melintas batas dan merobohkan tembok yang mengkangkangi semua pengharapan. Barangkali kita cukuplah untuk menuai sebuah kerentanan dan butuh lebih dari sekedar keyakinan dan perhitungan dalam usaha pencapaiannya. Bersanding dengan perenungan hal-hal yang belum dicapai secara berkala hanya akan merusak  keyakinan itu sendiri, maka saya mencoba melupakan sebisanya. Kadang saya juga benci hari-hari seperti hari ini atau tahun baru, dimana saya diharuskan mengingat semua itu lagi, dimana seperti ketika tahun yang baru datang semua orang seperti akan menjadi orang yang baru yang lebih dari apa yang tidak sama sekali mereka harapkan, bahkan kadang itu dilakukan tanpa perubahan sikap dalam diri. Hanya sebuah omongan, atau mungkin ditutupi dengan kedok doa. Saya sebisanya juga tidak mau semunafik itu, walaupun penyangkalan pun menjadi tidak berarti ketika berhadapan dengan apa yang disebut sebagai sikap dasar seorang manusia adalah seperti itu.

Selasa, 31 Desember 2013

Tentang Kekhawatiran-kekhawatiran ini



Suatu waktu saya membaca tulisan mengenai ketakutan penduduk bumi terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Lingkungan terus saja mengalami kondisi yang semakin buruk, pencairan es, radiasi, polusi merupakan masalah yang terjadi dalam ekologi saat ini. Kegelisahan seperti inilah yang dirasakan semua penduduk bumi pada era ini. Sehingga memunculkan berbagai pertayaan spekulasi dalam benak mereka, Bagaimana jika semua es dikutub mencair? Mau tinggal dimana kita? Apakah kita akan tetap hidup? Bagaimana jika dunia semakin panas karena rusaknya ozon? Apakah mungkin sinar ultraviolet langsung akan membakar rumah kita?

Senin, 16 Desember 2013

Soe Hok Gie, 44 Tahun Sudah

Beberapa hari yang lalu akhirnya saya memutuskan untuk mengulang kembali menonton film GIE  garapan Riri Riza. Saya kembali mengingat sosok idola saya Soe Hok Gie. Saya rindu sosok-sosok seperti Soe pada masa sekarang yang berani berkata sepedas ‘Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau’. Soe mencari kebenaran melaluli perlawanan (pemberontakan) yang dilakukannya. Saya sempat berfikir apa yang akan Soe lakukan jika dia hidup pada masa sekarang. Tulisan seperti apa yang akan dia hasilkan.

Hari ini tepatnya 44 tahun Soe Hok Gie meninggal setelah menghirup asap di Gunung Semeru. Saya hanya menolak untuk lupa untuk seorang yang berada di garis depan menetang tiran pada masa itu. 



Senin, 28 Oktober 2013

The Day We Lost Lou Reed


Dunia telah kehilangan salah satu penulis lagu terhebat. Ketika membaca berita tadi pagi saya sama terkejutnya dengan jutaan penggemar The Velvet Underground lain. Lou Reed menghembuskan nafas terakhirnya pada Sunday Morning 27/10 (waktu setempat). Mendengar itu saya langsung teringat pada album pertama mereka yang dirilis pada 12 maret 1967 dimana track pertama dalam album ini bertitel Sunday Morning yang ditulis sendiri oleh Lou Reed bersama John Cale. Entah kebetulan atau apa, lirik lagu ini pada pertengahan lagu berbunyi

Selasa, 22 Oktober 2013

Mendengarkan Musik Tong Teng Tong Teng

Akhir-akhir ini saya memang aneh, pikiran sering menerawang kemana-mana, terlalu senang makan bayam, yang terakhir adalah menemukan sekaligus mendengarkan sebuah band bernama Captain Beefheart and His Magic Band. Ini buruk, apakah ini sebuah kelainan atau penyakit? Entahlah. Yang pasti setiap hari-hari saya kebelakang entah sengaja atau tidak saya selalu membuka winamp dan mendengarkan Moonlight On Vermont, Ella Guru, On Tommorow. Empat puluh enam tahun lalu, tepatnya pada bulan april. Don Van Vliet memulai debut album studio dengan label Buddah Record dan menjadi titik awal perjalanan karirnya. Berkolaborasi dengan The Magic Band, akhirnya mereka memakai nama panggung Captain Beefheart and His Magic Band. Don Van Vliet a.k.a Captain Beefheart sendiri adalah seorang composer andalan (jika tidak bisa disebut ganjil) sekaligus vokalis band merangkap sebagai pemain harmonika, Saxophone.

Sabtu, 14 September 2013

Menyimak yang Luar Biasa dari “Jadilah Legenda”


Lihat laut dan indahnya ombak gemulainya pohon kelapa
para gadis yang mulai menari kibarkan merah putih
Untuk Indonesia kita punya semua
Sribu budaya dan  kekayaan alam yang takkan terkalahkan
Untuk Indonesia jadilah legenda, kita bisa dan percaya


Penggalan lirik diatas seperti menegaskan sekaligus mengigatkan kita bahwa kita harus bangga dengan apa yang kita punyai dan kita punya segalanya yang kita butuhkan . Lagu yang sangat cocok dengan jiwa pecinta alam, dan yang pasti bukan lagu mendayu-dayu melayu yang tak mendidik. Pengambaran pesan akan kondisi alam yang S.I.D visualkan dengan jelas pada video klip lagu jadilah legenda merupakan wujud cinta mereka pada Indonesia dan alamnya. Dalam video klip lagu tersebut diperlihatkan kondisi lingkungan Indonesia yang indah. S.I.D akhir-akhir ini memang sering membuat lagu-lagu bertemakan lingkungan, itu merupakan ekspresi kecemasan mereka terhadap pembangunan dan kondisi lingkungan yang semakin mengalami degradasi. Anda pasti tahu kondisi sekarang ini yang semakin sering saat ini kita dengar isu-isu lingkungan yang semakin berkembang (berkembang dalam artian memburuk). Global Warming, situs radioaktif sudah ada pada tataran yang membahayakan kehidupan. Alam dirusak secara membabi buta oleh manusia sendiri.

Minggu, 26 Mei 2013

Sulitnya Menyingkirkan Album Hard Times and Nursery Rhymes


Entah sudah berapa ratus kali saya mendengarkan deretan lagu dari album ke 7 Social Distortion yang dirilis pada 18 Januari 2011. Hard Times and Nursery Rhymes. Seperti selalu ada waktu untuk saya dalam setiap harinya untuk menikmati  Still Alive, Gimme The Sweet and Lowdown , ataupun Machine Gun Blues yang notabene adalah single andalan pada album ini. Saya seperti harus menuliskan beberapa pengalaman saya tentang beberapa lagu yang ada pada album ini yang ternyata mempunyai pengaruh yang cukup bagi kehidupan saya, lagu-lagu dalam album ini memang kebanyakan menceritakan tentang cinta dan kehilangan. Saya tidak membuat list berdasarkan dari lagu yang paling saya suka, hanya karena memang saya senang menuliskan semua dengan acak dan kurang beraturan. Pada dasarnya saya menyukai semua lagu dalam album ini.

Jumat, 22 Maret 2013

Weird Interview NOFX


A : What does NOFX stand for?
Q : NOFX doesn't stand for shit. We just kinda ripped off the   
     name from an old Boston band negative FX.
     OK.....Fat Mike.

Minggu, 17 Februari 2013

Olden


When i feel the day is so bad
I don't think something about you
Right now, i'm a people that supposed be
Don't try to looking back, don't know if i'm ready

It will be a long day when i couldn't find someone
Someone to advice my wrong life

I start to be the man i have to be
I'm not sure someday will go somewhere
So far away from my little home
I hope you don't reason to come home
But, i only the boy 19 years old
Fighting the damn memories about you

Selasa, 27 November 2012

Kenangan Ini Makin Mengganas

Untuk Purnomo a.k.a Chikung

 Aku menulis ini untukmu kawan, atas nama kenangan, meski tak panjang. Sebagai simbol atas semua yang pernah kita alami dalam setiap malam ataupun siang yang terik. Aku menulis ini dalam keadaan setengah mengantuk dan diterik siang pula. Maaf bila sedikit ngelantur. Tulisan ini tidak hanya untuk menunjukkan bahwa aku tetap mengingatmu, namun untukku ini lebih dari sebuah surat yang mengabarkan bahwa aku ingin menikmati tertawa-tawa bersama lagi dalam kehidupan kelabu personal kita dulu. Aku tetap menyimpan saat tawa kita bersama dalam lembaran ini. Aku tau kau disana sedang bekerja keras menggapai mimpimu yang dahulu pernah kau katakan di sore penghabisan bulan April beberapa tahun lalu. Aku yakin kau tetap ingat bahwa kau selalu bersedia membantu kawan lain walaupun kau menghadapi hidup sama busuknya dengan mereka.

Rabu, 05 September 2012

Catatan Kecil untuk Kotrek


Suaramu terdengar kembali beberapa hari lalu ketika seorang kawan menelfon dan menyambungkan ke nomermu. Kau bilang kau merindukan hal-hal yang pernah kita lakukan dulu. Kau tahu? Aku juga menantikan hal itu datang kembali walau jelas aku tahu kau dan aku sudah banyak berubah, tak se-absurd dulu. Kau bilang hal seremeh yang kita lakukan akan terkenang suatu saat nanti, katamu dahulu sekali. Damn, you life your words, all memories is still our mine. Kita dulu menjadi bagian sebuah komunitas yang bahkan belum terfikirkan namanya. Kita hanya terus berjalan, terus mengalir dan terus-terusan melakukan sesuatu yang tak main-main. Sedikit menantang aparat yang razia. Kita begitu beruntung tak pernah berjodoh dan naik mobil patroli mereka. Kau kini telah menempuh jalan yang kau pilih. Aku yang bertanya tentang kepulanganmu pun jarang kau menjawabnya. Catatan ini tak akan kubuat sepanjang catatan pemberontakan dengan analisis dangkal kebanyakan.  Karena ini memang merupakan catatan personal walaupun aku merasa banyak orang membaca ini. Aku hanya ingin mengabarkan padamu bahwa kau tak sendirian menginginkan hal yang dulu datang kembali. Kebersamaan itu penting mirip lagunya Slank yang berjudul 'makan ga makan asal ngumpul'. Memang seperti kebanyakan omongan klasik dimana susah, sedih, senang kita lewati bersama. Aku tahu sampai saat ini kau masih penasaran dan ingin melanjutkan Resident Evil. Aku ingin mengabarkan padamu bahwa game itu ternyata telah diselesaikan oleh Yudi, dengan level hard pula. Memang sialan. Aku ingat ketika dulu kau bermain dan bingung menemukan jalan menuju level berikutnya dan lalu kau memutuskan untuk berhenti bermain untuk beberapa hari. Haha, wujud protes yang sungguh sangat amat bodoh.

Minggu, 12 Februari 2012

Gemuruh Kerinduan

Gelora air berombak menyapu pasir hitam pantai, meretas malam sunyi di pinggiran pandang khatulistiwa. Dimalam sedingin pagi buta ini aku tergiang sebuah wajah elok disertai rasa rindu menyeruak ke permukaan. Ku dekap erat bayangmu. Kemudian ku sematkan rindu ini di antara api cinta yang masih menyala.

Apa kabar hidupmu disana? lama sudah aku tak melihat dirimu. Kuharap engkau tetap baik-baik saja dengan dirimu ataupun dengan kesetiaanmu. Kuharap

Selasa, 07 Februari 2012

Senandung di Hari yang Panas

Teruntuk sahabat terbaikku
            Di hari yang secerah ini, tiba-tiba aku teringat tentang kegilaan-kegilaan kita dulu, entah mengapa ide-ide liar selalu terkesan ataupun terlihat keren jika didiskusikan denganmu. Suatu siang panas yang membuat kita menghabiskan 1 galon air minum, kita berdiskusi dan membuat sketsa rencana tentang modifikasi, setelah berputar-putar dan mensket rencana realisasi kita sepakat untuk membuangnya saja ke tempat sampah di seberang jalan. Atau  tentang sebuah helm bekas yang jauh dari kata keren, dan bahkan sebagian darinya legam terbakar api. Entah apa yang salah jika kita yang memakainya selalu nampak keren. Ah....mungkin itu hanya fantasi kita sebagai orang yang tidak pernah dianggap keren oleh orang lain. Kau tidak sekedar sahabat tapi juga orang yang menyenagkan, humoris, periang, atau sekedar orang biasa dengan tingkah laku luar biasa bahkan bisa menyaingi orang psikopat pada suatu waktu. Hari-hari penuh kekonyolan dan tawa riang selalu memenuhi hari yang bahkan saat mentaripun enggan berpijar, kita tetap setia layaknya dua orang bodoh dengan hal bodoh yang dilakukannya. Akhirnya jalan hidup jua yang memisahkan kita, kita tak lagi dipertemukan pada jalan yang sama. Lekat dalam ingatan saat kita melakukan tingkah-tingkah gila yang membuat kita mendapat masalah karena kegilaan itu, tapi masalah-masalah tersebut akhirnya malah jadi bahan tertawaan di kala malam telah larut. Imajinasi kita terlalu tinggi sebagai orang yang tidak ingin semua imajinasi itu terwujud. 5 tahun terasa sudah tanpa hadirmu dan hal-hal absurd yang kita pikirkan. Tak ada atau mungkin belum ada teman sepertimu yang bisa kuajak berdiskusi tentang kucing tetangga pencuri makanan kita, pohon-pohon yang menganggu cabang pohon lainnya, atau tentang burung milik pak lurah dengan kicauan anehnya. Suatu ketenangan mungkin kurasakan saat ini setelah kau menghilang ditelan malam, ketenangan yang hampir saja membunuhku atau memang sudah membunuhku dan kini aku seperti mayat hidup.