Tampilkan postingan dengan label Share. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Share. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juni 2014

Gumaman Seorang Mahasiswa Tingkat Akhir Manajemen Agribisnis

Kajian bidang pertanian di negeri ini memang bukanlah hal yang baru, malah saking lamanya masyarakat sudah bosan menggelutinya. Berangkat dari kondisi bertani yang cenderung tidak banyak mengubah hidup mereka. Masyarakat desa beramai-ramai menjadi masyarakat urban, dengan harapan yang tak muluk-muluk, agar merubah hidup mereka, mengumpulkan uang sebanyak mungkin, kaya dengan lebih cepat.

Ah, itu hanya anggapan sarkastik mahasiswa jurusan Manajemen Agrbisnis yang sudah digembleng agar mencintai bidang pertanian, walaupun akhirnya memilih bekerja di bank atau di perusahaan swasta lain. Menjadi budak untuk orang lain, dan dengan nyaman mengikuti arus dunia global dengan gadget dan alat elektronik terbaru. Menjadi manusia apatis yang cenderung individualis. Mungkin juga akan menghamburkan uang diawal bulan, lalu kesulitan memenuhi kebutuhan diakhir bulan. Siklus gali lubang tutup lubang yang terlalu klise bagi masyarakat menengah yang bekerja di perusahaan-perusahaan di ibukota.

Itu yang terjadi pada sebagian besar angkatan diatas saya pada jurusan ini, alih-alih mendirikan sebuah bisnis. Malahan mereka dengan kesadaran penuh memilih untuk bekerja pada orang lain. Sebuah anomali sebenarnya jika kita berkaca kembali pada esensi awal tujuan lulusan Manajemen Agribisnis yang diharapkan, yaitu adalah untuk mencetak pengusaha muda khususnya dibidang agribisnis. Saya tidak bermaksud menyalahkan mereka, karena begitulah yang terjadi di negara ini, salah jurusan itu biasa, bekerja di bidang yang kontradiktif (mungkin) juga menjadi sangat biasa.

Bagi saya yang mahasiswa tingkat akhir ini tentu saja banyak menggalau dengan intensitas yang sama dengan kakak kelas dulu tentang masa depannya. Yah, dengan ilmu yang bisa dibilang kepalang tanggung ini kita harus menghadapi apa yang disebut sebagai dunia dan hidup. Jika nantinya di masyarakat saya ditanyai ‘dulu kamu kuliah kenapa mengambil Manajemen Agribisnis?’ ‘Apa yang kamu dapat dari sana?’ atau mungkin yang lain ketika saya dimintai saran oleh petani tentang bagaimana menanam jagung yang benar atau seberapa takaran pupuk yang paling baik untuk tanaman padinya. Mungkin dengan pertanyaan-pertanyaan itu saya akan tergagap untuk menjawabnya.

Apa yang harus kita yakini hari ini? Menjadi manusia yang puas bekerja untuk orang lain atau menjadi mandiri seperti harapan program keahlian Manajemen Agribisnis, atau mungkin menjalani keduanya.

Keadaan di negeri yang kita tinggali ini seharusnya mengajarkan kita untuk berpikir dan mengambil keputusan. Kalian mau Indonesia yang disebut-sebut sebagai negara agraris itu tinggal dongeng? Kenapa harus malu menjadi petani? Saya tidak sedang berbicara tentang petani dalam konteks yang sangat sempit seperti macul, tandur. Dan jika itupun yang kalian pikirkan, saya kira pekerjaan itu masih lebih mulia daripada menjadi kacung di perusahaan-perusahaan multinasional.

Renungilah ini kawan-kawan Manajemen Agribisnis. 

Minggu, 25 Mei 2014

Ketika Hukum Sudah Tidak Relevan


Bagaimana sebuah hukum dibuat? Melalui metode empiris atau dalam setahapan pemikiran logis dari filsafat yang berfikir keras mengenai hukum itu sendiri. Bagaimana semua itu dijalankan? Dengan segala jenis pemaksaan dan pelarangan? Apalah yang kita lakukan untuk menghadapinya? Mentaati atau dengan keterpaksaan berusaha untuk tidak melanggar apapun yang tertulis dalam sebuah bentuk aturan yang (mungkin) tak pernah kita setujui.

Berhari yang lalu saya sempat menonton film besutan John Hilcoat, Lawless yang berkisah tentang 3 bersaudara yang menjual minuman keras secara ilegal, undang-undang yang ditetapkan pada saat itu adalah melarang bisnis seperti ini. Sebagai gantinya Bondurant harus membayar sejumlah uang untuk uang tutup mulut kepada penegak hukum. Forrest Bondurant si pemimpin keluarga menolak membayar sejumlah uang itu. Pada akhirnya keluarga mereka mendapatkan teror, ancaman kematian, dan percobaan pembunuhan oleh orang bayaran.

Suatu malam 2 orang tak dikenal menggorok leher Forrest, dia hampir mati jika tidak diselamatkan oleh Maggie, perempuan yang bekerja untuk Bondurant yang membuat Forrest jatuh cinta padanya. Malam itu Maggie menemukan Forrest tergeletak di halaman bersimpah darah dan kemudian membawanya ke rumah sakit. Namun Maggie tidak menceritakan hal yang sebenarnya, dia mengarang cerita bahwa Forrest sendiri yang berjalan ke rumah sakit sejauh 20 mil dalam kondisi sekarat, hal ini dia lakukan untuk menjaga mitos yang selama ini berkembang. Bahwa Forrest Bondurant adalah seorang yang tidak bisa ditaklukkan, dia tidak bisa mati. Hal lain yang tak diceritakan Maggie bahwasanya dia telah diperkosa 2 orang yang mencoba membunuh Forrest.

Keluarga Bondurant adalah sebuah representasi dari sebuah keluarga yang tidak mau diperbudak orang lain. Mereka memilih untuk diperbudak prinsipnya sendiri, bahkan dengan segala resiko yang mereka terima. Konsekuensi dalam menjaga cara lama yang sudah mereka jalankan bertahun-tahun, menetang kotornya sebuah sistem dan menjadikan pemberontakan sebagai usaha untuk mencabut perlindungan hukum.

Si bungsu dari keluarga Bondurant, Jack yang dianggap paling lemah akhirnya berhasil menjalin bisnis dengan gangster Floyd Banner, dari Floyd Banner pula Jack mendapatkan alamat orang yang berusaha membunuh Forest. Sejak saat itu Jack berubah menjadi seorang ekshibisionis karena jatuh cinta pada seorang wanita bernama Bertha. 

Deputi Charlie Rakes orang yang selama ini ada dibalik penyerangan-penyerangan yang terjadi ke keluarga Bondurant, membuntuti Jack dan Bertha saat mereka menuju Still (alat yang digunakan untuk membuat minuman keras). Tempat Still ini tersembunyi di dalam hutan dan tak banyak orang yang tahu. Itulah sebabnya Rakes selama ini tak menemukan tempat ini, hingga mereka membuntuti Jack dan Bertha. Sempat terjadi baku tembak disana, sebelum akhirnya petugas hukum meledakkan still itu. Cricket Pete yang merupakan pembuat wiski terbaik mereka, tewas dibunuh oleh Rakes.

Jack menyimpan dendam yang besar karena kematian Pete. Pada akhir cerita terjadi baku tembak di perbatasan, tetapi para sheriff akhirnya malah berbalik membela keluarga Bondurant karena kesombongan Rakes. Rakes tewas ditembak Jack. Setelah hari itu larangan UU dihapus dan mengakhiri konspirasi besar yang terjadi. 

Sabtu, 29 Maret 2014

Meneladani Bambang Ekalaya

Aku ingin membagi sebuah cerita kepada kalian, mengenai seorang pangeran dari negeri Nisada. Dia adalah Bambang Ekalaya. Dalam sebuah cerita dikisahkan bahwa Bambang Ekalaya hendak memperdalam ilmu memanahnya, datanglah dia ke Hastina untuk menemui Resi Drona yang hendak ia jadikan guru. Namun keinginan itu ditolak oleh Resi Drona dengan alasan Resi Drona hanya akan menerima murid dari Hastina. Tetapi Bambang Ekalaya tak patah arang, kemudian di tengah perkemahannya dia membuat patung yang mirip dengan Resi Drona yang setia dia sembah dan puja setiap harinya. Dia juga kadang mengintip ketika Resi Drona mengajari murid-muridnya.

Suatu ketika ada sebuah pertandingan memanah, Bambang Ekalaya ternyata mengungguli Arjuna bahkan lebih sakti daripada Arjuna. Bambang Ekalaya juga menguasai ilmu memanah Danurweda yang terkenal sulit untuk dikuasai itu.Para Korawa kemudian bertanya siapa guru dari Bambang Ekalaya. Bambang Ekalaya menjawab bahwa gurunya adalah Resi Drona. Selepas itu para Korawa datang kepada Prabu Drestarata, ayah dari para Korawa. Prabu Drestarata kemudian memangil dan berbicara kepada Resi Drona perihal janjinya untuk tidak mengajarkan ilmu utama itu kepada Ksatria dari negara lain. Resi Drona bingung dengan kenyataan ini, dan meminta waktu untuk mendapatkan jawabannya. Karena dia sama sekali tidak pernah merasa mengangkat murid dari negara lain. Akhirnya dibuntutilah Bambang Ekalaya, sampai ke tempatnya berlatih. Dia terkejut melihat patung dirinya, berdiri tegak di tengah-tengah sanggar pemujaan Sang Ksatria utama. Bambang Ekalaya tengah khusuk, berdoa dihadapan patung dirinya itu. Lalu disapalah Bambang Ekalaya oleh Resi Drona.

Bambang Ekalaya terkejut mendengar suara yang sangat dikaguminya itu, dengan setengah tidak percaya, dia melihat Resi Drona berdiri di hadapannya. Sambil menyembah Bambang Ekalaya berkata “Guru yang hamba puja dan hormati, ada apakah gerangan engkau datang ke tempat hamba yang hina ini”. “Terimalah sembah sujud hamba kepadamu”.

Lalu Guru Drona bertanya, segala yang terjadi selama ini. Dengan penuh hormat, Bambang Ekalaya menceritakan perjalanannya meraih ilmu dengan cara belajar sendiri dan memuja patung Resi Drona untuk mendapatkan restu dari Sang Guru. Resi Drona terharu mendengar penuturan dari Bambang Ekalaya. Dia sadar, bahwa kemampuan sang murid dalam belajar sendiri sangat luar biasa. Hanya dengan rasa bhakti terhadap guru, walau tanpa diajar langsung, dia dapat menguasai ilmu Danurweda yang terkenal sangat sulit untuk dipelajari itu.

Mendengar penjelasan itu, Resi Drona gundah melihat kenyataan yang dia hadapi. Melihat kesedihan dari roman muka Sang Guru, lalu Bambang Ekalaya bertanya, ada apa gerangan, sehingga menjadi berduka seperti itu. Sang Guru berkata, “Bambang Ekalaya anakku, aku terharu akan usahamu dalam melaksanakan swadhyaya atau belajar sendiri. Engkau mampu menguasi ilmu Danurweda yang sangat sulit ini, yang bahkan akupun belajar dengan guruku selama bertahun-tahun. Sedangkan ananda dapat menguasainya dalam waktu singkat dan sangat sempurna, hanya dengan rasa bhakti. Namun aku sekarang berada dalam posisi sangat sulit, dan ini tidak sama sekali karena kesalahanmu. Aku pernah berjanji kepada Prabu Drestarata, untuk tidak mengangkat murid selain dari keluarga Hastina. Dan akibat ulah dari pada Korawa setelah kalah perang tanding denganmu, maka aku dituduh berkhianat terhadap janji yang telah aku ucapkan sendiri. Sedangkan menepati janji adalah kewajiban utama bagi seorang Brahmana. Mungkin ini memang sudah jalanku, sehingga aku tidak bisa melanjutkan cita-citaku sejak lama untuk menjadi Brahmana Kerajaan. Tapi aku sangat bangga kepadamu Bambang Ekalaya. Engkau akan menjadi contoh bagi generasi muda, yang tidak cengeng, dan mampu mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi.”

Bambang Ekalaya menangis dan bersujud kepada Resi Drona, meminta maaf atas kelakuannya yang telah menyusahkan hati Sang Guru yang sangat dia hormati. Seraya berkata, apa yang dia dapat dilakukan untuk menebus kesalahannya. Resi Drona kembali berkata, bahwa ini bukanlah kesalahan dari Bambang Ekalaya. Namun ini hanya karena takdir. Namun Bambang Ekalaya bersikukuh dengan pendirian, bahkan mau mengorbankan nyawa demi Guru yang dia cintai.

Akhirnya setelah lama berdialog, Bambang Ekalaya berjanji untuk tidak menggunakan ilmu Danurweda tersebut, sebagai buktinya dia merelakan ibu jari tangan kanannya dipotong, sehingga tidak bisa memanah lagi. Serta merta, Bambang Ekalaya memotong ibu jari tangannya dan dengan rasa hormat, di persembahkanlah ibu jari itu kepada Resi Drona yang sangat dia hormati.

Maka terkejutlah Resi Drona terhadap pengorbanan dari Bambang Ekalaya, dengan menangis haru, Resi Drona memberikan restu dan mendoakan Bambang Ekalaya, kelak menjadi Ksatria dan Raja Utama. Dengan rasa hormat dan terima kasih, Bambang Ekalaya memeluk kaki Sang Guru, seraya mohon pamit untuk kembali ke negaranya. Lalu mereka berpisah, dan Resi Drona kembali ke Hastina dan menceritakan kepada Prabu Drestarata tentang hal yang terjadi. Akhirnya Guru Drona tetap menjadi Brahmana Kerajaan di Hastina, sedangkan Bambang Ekalaya menggantikan ayahnya menjadi Raja di negara Nisada.
                                                                    ***
Apa yang dapat kita petik dari cerita tersebut, adalah rasa hormat kepada seorang guru. Selama ini banyak dari kita telah menganggap guru sebagai seorang yang tak lebih dari penceramah biasa. Yang memberikan ilmu pasti, memarahi bila kita salah dalam mengerjakan soal. Hanya itu yang kita ingat dari sosok seorang guru. Bahkan kadang kita membenci mereka,  karena suatu alasan.

Saya juga pernah mengalami kebencian seperti itu kepada seorang guru, sampai bertahun-tahun saya mendendam kepadanya. Sampai akhirnya Bambang Ekalaya membuka mata bahwa tidakkah kita mencoba berfikir untuk lebih dalam mengetahui guru bukan semata memberi pendidikan secara formal, namun juga mencoba membentuk sikap kita ke arah yang baik tentunya.

Dalam kenyataannya kita menghamba ilmu atau mungkin pengalaman kepada mereka. Seperti cerita Bambang tersebut walaupun dia tidak diajar oleh langsung oleh Resi Drona tetapi kemampuannya melebihi murid Resi Drona yang diajarnya secara langsung. Bambang telah mengajari kita bahwa belajar sendiri dengan upaya yang sungguh-sungguh, dapat menghasilkan kemampuan sama bahkan lebih baik, daripada murid yang berguru secara langsung. Kemudian tentang rasa baktinya kepada seorang guru yang luar biasa. Yang tentunya sudah jarang kita dapati di ranah pendidikan hari ini.

Sabtu, 15 Maret 2014

Tidak Akan Ada Hari yang Spesial

Selamat ulangtahun untuk diriku sendiri

Sejatinya ada yang layak ditebus dalam sebuah perjalanan usia, entah tentang kedewasaan atau kebijaksanaan. Bagi saya pertambahan usia adalah sebuah tuntutan untuk tak lagi banyak bermain, tak lagi banyak bersenang-senang. Hari ini, hari yang kemudian kusebut hari ulangtahun selalu menyingkap kesadaran-kesadaran lain. Bahwa di umur yang saat ini apa yang telah saya capai? Tidak banyak. Saya belum menghasilkan apapun dalam sebenar-benarnya sebuah ekspentasi atas seorang manusia.

Diusia saya yang saat ini dibelahan bumi lain pada masanya Bill Gates telah memulai mendirikan Microsoft atau yang lain Steve Jobs juga mendirikan Apple di usia saya saat ini. saya tidak melihat kesuksesan mereka saat ini sebagai sesuatu yang harus saya capai. Tetapi merupakan sebuah isyarat yang saya butuhkan bahwa diusia ini saya harus memulai melakukan sesuatu, entah apapun hasil yang akan saya dapatkan. Saya juga harus tetap rendah dan bersiap untuk kemungkinan terpahit sekalipun.

Barangkali saya bukan seperti kebanyakan orang yang selalu memaknai hari lahirnya sebagai sesuatu yang layak untuk dirayakan dan bersuka cita menyambutnya. Memperbuasnya dengan lagu selamat ulangtahun, beberapa pengharapan dan tiupan lilin. Saya tidak pernah atau mungkin belum pernah merasa suka cita seperti mereka dalam menyikapi hari lahir saya. memang barang tentu suka cita yang saya maksud sangat subjektif dan relatif. Sampai usia saat ini belum sekalipun saya merayakan hari ulangtahun. Iya, saya tidak mengada-ada. Bahkan seringkali dihari seperti ini saya agak bersedih, namun ada juga sedikit rasa syukur di lain sisi. Bahwa saya masih diberi hidup sampai usia ini. kesedihan yang sering saya rasakan bahwa umur saya bukannya semakin bertambah yang ada malah semakin berkurang.

Hari ini pun saya akan tetap melakukan hal-hal seperti biasa, minum kopi dipagi hari, merenung diwaktu dhuha, bersendawa seperlunya, membuang sampah, membaca buku sebelum tidur. Tidak akan ada yang istimewa hari ini, tidak ada ritual tiup lilin, dan saya tak pernah mengharapkannya. Cuma kesadaran mungkin yang akan berubah, usia hanya akan saya jadikan sebuah alasan untuk melakukan sesuatu hal yang lebih berguna dan lebih bijak. Rencana mungkin yang saya perlukan untuk mewujudkan keinginan yang ingin saya ungkapkan hanya kepada setan yang setia membuat saya malas dan ragu untuk melakukan suatu hal. ‘setan yang selalu bersetia menyertaiku, kali ini saya akan bersungguh-sungguh, aku tidak akan terlena oleh keraguan yang kau bisikkan, aku akan berbeda dari hari yang kemarin. Jika kau bersikeras tetap ingin mengangguku bekerjalah lebih keras, bila kau tidak keberatan lebih baik bantulah aku untuk memulai semua ini, juga bantulah aku untuk lebih dekat pada Tuhanku, jika itu mungkin tak memberatkanmu’.

Seberat-beratnya tantangan dalam hidup adalah masa dimana kita dalam proses keluar melintas batas dan merobohkan tembok yang mengkangkangi semua pengharapan. Barangkali kita cukuplah untuk menuai sebuah kerentanan dan butuh lebih dari sekedar keyakinan dan perhitungan dalam usaha pencapaiannya. Bersanding dengan perenungan hal-hal yang belum dicapai secara berkala hanya akan merusak  keyakinan itu sendiri, maka saya mencoba melupakan sebisanya. Kadang saya juga benci hari-hari seperti hari ini atau tahun baru, dimana saya diharuskan mengingat semua itu lagi, dimana seperti ketika tahun yang baru datang semua orang seperti akan menjadi orang yang baru yang lebih dari apa yang tidak sama sekali mereka harapkan, bahkan kadang itu dilakukan tanpa perubahan sikap dalam diri. Hanya sebuah omongan, atau mungkin ditutupi dengan kedok doa. Saya sebisanya juga tidak mau semunafik itu, walaupun penyangkalan pun menjadi tidak berarti ketika berhadapan dengan apa yang disebut sebagai sikap dasar seorang manusia adalah seperti itu.

Selasa, 04 Februari 2014

Kisah Saya dan Seorang Philips

Pertama kali kalian mendengar nama Husna pasti kalian akan menyangka bahwa dia seorang perempuan. Tapi setelah membaca nama panjangnya Husna Alliyus Dwi Karisma selanjutnya kalian juga akan bertanya ini cewek apa cowok? Tapi nyatanya dia adalah seorang lelaki, yang jantan, yang normal, yang tampan, yang suka banget Maudy Ayunda (uppsss).

Ini foto yang saya curi dar FB nya, pake jaket saya :D


Aneh sekali bahkan jika memangilnya pun dengan panggilan ‘hus’ (sebagian besar temannya memanggil dengan panggilan ini), ‘hus, kamu mau kemana?’, ‘hus, kamu sudah gila ya?’ layaknya ngurak pitik atau sebagai bentuk bungkaman karena telah berkata tidak sopan dalam bahasa jawa ‘hus, omonganmu seng apik’ . Sebelum tahun ini saya sudah 2 tahun satu kontrakan dengan dia, mendengarkan humornya yang garing, memasak nasi bersama di satu rice cooker berlumut, dan berbagi-sempak.

Husna Alliyus merupakan penggemar Liverpool yang sering membanggakannya dan sering sakit hati jika diejek oleh fans rival semisal MU, Chelsea. Beberapa waktu lalu dia sampai berkata ‘saiki panganen pendukung e MU, biyen lek omong koyo-koyo o’ itu intinya yang sedikit saya simpangkan karena lupa kata-kata otentik yang keluar dari dia. Dia sering maen PES dengan saya walaupun dia tidak pernah mengakui kekalahannya. Maaf karena membuat Liverpool kalah hanya karena melawan Genoa atau Parma, bukan melawan Joker ku AC Milan.

Husna juga membuat nama kecilnya sendiri, dan betapa epic namanya -Philips-. Di akun twitternya bisa dilihat ini. Nama itu tertulis hampir di semua sisi kehidupannya, nama user di komputernya, nama emailnya, di facebooknya yang dulu (sekarang sudah berganti nama) dan juga pada nama-nama lain yang tidak mengharuskan menggunakan nama asli, dia pasti akan memakai nama ini. Dari nama itu dia hendak menyamakan dirinya sendiri dengan jempol kakinya pangeran Philips. Suatu waktu juga ingin saya katakan bahwa Pangeran Philips itu sudah tua, bahkan sudah meninggal beberapa waktu lalu. Ya saya mengurungkan mengatakan semua itu.

Sering sekali bahkan terlampau sering dia berkeluh kesah ria dalam menghadapi kehidupan, saya dan dia memang sering berdiskusi tentang kehidupan ini, tentang uang jajan yang pas-pasan, tentang kehidupan yang bahkan tak satu setanpun mau mengetahuinya. Seringnya pada akhir cerita kami saling lempar-melempar kata-kata bijak dari kesimpulan yang dibicarakan. Tak jarang kami juga berdiskusi tentang cinta. Untuk yang terakhir ini pasti dia akan merasa sangat sentimentil dan terlihat uring-uringan, dia sering sekali mengalami kegagalan dalam soal ini. Padahal soal wajah dia tampan, kurang apa coba?

Saya hampir mengikuti semua kisah cintanya yang gagal selama dua tahun dikontrakan yang lama. Dia selalu hampir berhasil meraih hati gadis pujaannya sampai akhirnya dia menyadari banyak hal yang membuatnya tak akan berhasil. Entah karena si cewek tidak mau untuk sekedar sms duluan atau dia takut mengalami penolakan.


Ada sebuah kisah menarik sebenarnya antara bunga mawar putih, rapat, dan parfum pada malam itu. Namun saya tidak akan menceritakannya disini, ini personal dan saya takut dia akan tersinggung nantinya. Ini aib? Ah, itu berlebihan tidak seburuk itu, ini mungkin sebuah kesalahan jika aib terlalu kasar. Bahkan suatu hari saya hampir menilai kisah cintanya layaknya kisah Sisifus, cerita dalam mitologi Yunani itu. Saya ikut senang akhirnya sekarang ini dia menemukan juga apa yang dia cari, perempuan yang mungkin benar-benar tepat bagi dirinya, pacarnya sekarang –yang saya tahu masih sering memanggil kak daripada yank itu-. Hehe, maaf kawan.

Senin, 16 Desember 2013

Soe Hok Gie, 44 Tahun Sudah

Beberapa hari yang lalu akhirnya saya memutuskan untuk mengulang kembali menonton film GIE  garapan Riri Riza. Saya kembali mengingat sosok idola saya Soe Hok Gie. Saya rindu sosok-sosok seperti Soe pada masa sekarang yang berani berkata sepedas ‘Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau’. Soe mencari kebenaran melaluli perlawanan (pemberontakan) yang dilakukannya. Saya sempat berfikir apa yang akan Soe lakukan jika dia hidup pada masa sekarang. Tulisan seperti apa yang akan dia hasilkan.

Hari ini tepatnya 44 tahun Soe Hok Gie meninggal setelah menghirup asap di Gunung Semeru. Saya hanya menolak untuk lupa untuk seorang yang berada di garis depan menetang tiran pada masa itu. 



Senin, 28 Oktober 2013

The Day We Lost Lou Reed


Dunia telah kehilangan salah satu penulis lagu terhebat. Ketika membaca berita tadi pagi saya sama terkejutnya dengan jutaan penggemar The Velvet Underground lain. Lou Reed menghembuskan nafas terakhirnya pada Sunday Morning 27/10 (waktu setempat). Mendengar itu saya langsung teringat pada album pertama mereka yang dirilis pada 12 maret 1967 dimana track pertama dalam album ini bertitel Sunday Morning yang ditulis sendiri oleh Lou Reed bersama John Cale. Entah kebetulan atau apa, lirik lagu ini pada pertengahan lagu berbunyi

Kamis, 09 Mei 2013

Kamis, 09 Februari 2012

Belajar Aplikom

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka sebagai penyeimbang terhadap kondisi masa kini pun kita harus mampu mengopersionalkan apa yang dinamakan komputer. Untuk itu, kita harus dapat mengaplikasikan komputer agar dapat dengan mudah mengikuti kondisi yang ada, karena dengan komputer kita akan dengan sangat mudah mengakses dan mengerjakan sesuatu dengan lebih mudah dan ringan.

Ada beberapa dari ribuan manfaat komputer (termasuk internet) adalah :


*yang dulu mengetik dengan mesin ketik sekarang sudah bisa menggunakan komputer dengan mudah dan gampang


* Untuk mengedit lebih mudah dan dapat diisi gambar sesuai dengan apa yang diinginkan


* Dapat digunakan untuk data menyimpan dan dengerin MP3


* Dulu jika ngirim surat, sekarang cukup dengan email bisa dengan cepat terkirim


* Mempermudah pekerjaan administrasi yang jauh lebih mudah dan efisien





Dan dapat disimpulkan ada beribu alasan kenapa kita harus belajar komputer, karena memang komputer mempunyai peran dan fungsi yang terAmat banyak....


so, jangan sampai kita tidak dapat mengaplikasikan komputer.







sumber : http://classblok.blogspot.com/

Rabu, 08 Februari 2012

Sinopsis Novel Rumah di Seribu Ombak



Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut? Semata agar kita tahu, dalam perbedaan, ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang.

Aku melihat lagi langit di atas Laut Lovina. Kenangan bersamamu menyerbu masuk ke ingatanku. Laut dan mimpi-mimpi kita. Apa kabar hidupmu?

Kita memang berbeda. Aku tahu. Sama tahunya seperti dirimu. Warna yang mengalir di nadimu tak sewarna dengan yang mengalir di nadiku. Namun, bukankah kita tak pernah bisa memilih dengan warna apa kita lahir? Kita lahir, lalu menemukan tawa bersama. Menyatukan cerita bersama. Menjumputi mimpi bersama.

Mengapa kini kau lari menjauh?

Lalu, apa kabarmu? Mengangakah masih lukamu yang dulu? Atau, kini sudah terpilihkan bagimu akhir yang bahagia? Maafkan aku. Maafkan karena tak bisa selalu menjadi laut yang tetap menyimpan rahasiamu.

Minggu, 27 November 2011

Rumah Seribu Ombak, Debut Erwin Arnada Jadi Sutradara

TEMPO.CO, Jakarta - Penjara bukanlah akhir segalanya. Di Penjara, Erwin Arnada yang tersangkut kasus penyiaran kesusilaan justru berhasil merampungkan naskah film Rumah di Seribu Ombak. "Saya menuliskannya seama 9 bulan, tapi kepotong ketika ditahan dan menyelesaikannya di penjara," kata Erwin dalam percakapannya dengan Tempo, Kamis 29 September 2011.

Rumah di Seribu Ombak merupakan film bertema anak-anak dengan pesan utama pluralisme. Mengambil latar belakang di Singaraja Bali, film tentang persahabatan antara anak muslim dan anak hindu ternyata mengungkap sisi gelap phedofilia di Singaraja. "Saya melihat dan bertemu beberapa korban, jadi film ini berdasarkan kejadian sebenarnya," papar Erwin.

Erwin mengaku telah meriset selama tiga tahun demi cerita ini. "Saya amatin bener korban-korban phedofile dan hubungan antar agama di Singaraja," kata dia. Apalagi selama ini, Singaraja dikenal sebagai kawasan tempat penduduk muslim di Bali.

Tak perlu khawatir tentang tema film ini. Erwin berjanji, Rumah di Seribu Ombak tetap wajar ditonton oleh anak-anak. Soalnya kisah persahabatan akan berakhir bahagia.








Seperti halnya film untuk anak-anak lainnya yang penuh rasa optimis untuk mencapai cita-cita. "Akan ada kisah persahabatan beda agama yang bisa saling mengembalikan kepercayaan," ujar mantan Pemimpin Redaksi Majalah Playboy Indonesia.




Persahatan dua anak berusia 11 tahun dengan latar belakang beda agama, menurut Erwin, sesuai dengan perhatiannya selama ini, toleransi. "Kisahnya lebih kental toleransi dengan moral cerita pluralisme," ujar dia.




Agar suasana toleransi terasa, Erwin mengambil pemain dari Singaraja dan Bali pada umumnya. Memang ada beberapa nama selebriti yang ikut terlibat, antarasasam lain Lukman Sardi yang masih menimbang-nimbang dan Jrx, drummer Superman Is Dead. Adapun penulis skenario, Erwin mempercayakan kepada Jujur Prananto




Erwin di film ini akan menjadi sutradara sekaligus produser. "Ini pertama kali setelah sebelas kali saya menjadi produser film," kata dia. Film-film yang diproduseri Erwin antara lain Asmara dua Diana (2009), Jaelangkung 3 (2007),Jakarta Undercover (2006),Cinta silver (2005),Catatan akhir sekolah (2005), 30 hari mencari cinta (2004) dan Tusuk jelangkung (2003)




DIANING SARI