Minggu, 23 Maret 2014

Dendang Maut Belukaria Orkestar


Sebenarnya saya malas untuk menulis lagi tentang review seperti ini. Ya, saya sudah banyak mencoba menulis review seperti ini, hasilnya cukup monoton dan membosankan, selain itu kadang sesuatu yang saya rasakan tak bisa untuk sekedar diungkapkan dengan tulisan ataupun kata. Kadang saya merasa bahasa terlalu sempit untuk bisa mewakili kenyataan sebenarnya. Tetapi ini mungkin terasa seperti hutang jika saya tidak membuat review tentang band luar biasa asal Palembang, Semakbelukar. Saya ingat bahwa tujuan saya menulis adalah untuk menghindari kelupaan tentang apapun. Setidaknya ini layak ditulis karena sudah mengubah pandangan saya tentang suatu hal.

Sebelumnya saya tak pernah suka dengan aliran musik melayu. Alasannya memang terlalu dangkal saat itu untuk menilai musik melayu dari media yang mengecap band-band  yang beredar dipasaran, yang memenuhi layar kaca setiap pagi di acara musik, yang telah membuat citra musik melayu bagi saya menjadi buruk. Band-band melayu mainstream yang seragam dan cengeng  adalah sebuah keboborokan yang dipelihara. Dan Semakbelukar adalah sebuah anomali mungkin, jika mungkin melayu yang sejati itu relatif bagi setiap orang. Semakbelukar adalah sebuah penawar dari semua itu, semacam relevation yang pas diujung senja tiba dan keheningan beranjak.

Bagi saya mereka cukup bangsat untuk sebuah band yang mulai dikenal, malah kemudian mereka memutuskan untuk bubar.  Entahlah apapun alasan mereka dalam keputusan ini, yang jelas mereka telah membuat banyak orang kecewa dan bertanya-tanya. Kenapa harus bubar sekarang.

Saya banyak menangkap lirik lagu mereka adalah merujuk kepada kritik sosial. Kritik sosial yang dikemas dengan luar biasa dan cadas. Lewat metafora-metafora kata yang saya yakin dibutuhkan waktu dan proses kreatif yang mumpuni sebagai sebuah pemberontakan. Semakbelukar memang eksotis, secara visual saja melihat alat musik musik yang mereka gunakan adalah terlampau sederhana. Siapa sangka gong kecil yang banyak dipakai tukang es keliling ini adalah bagian dari musik mereka.

Ketika David Hersya mulai melantunkan suara, saya pun luruh merendah menikmati lantunan yang lebih mirip muadzin saat adzan ini. pada lagu Kalimat Satu yang dimulai dengan permainan akordeon lalu dentuman gendang yang teratur. Ketika kita sudah bosan dengan musik yang ada saat ini, Semakbelukar adalah kesempatan yang bagus untuk Anda menikmati dendang ringan yang mendayu-dayu. Mereka sama sekali tidak terlihat njlimet dan berskill tinggi. Cukup sederhana untuk sebuah band, kesederhanaan yang justru mungkin saja bisa memunculkan sesuatu yang lebih rumit jika kita menyimak mereka dengan lebih dalam.

Kalian tahu bahwa tampilan luar selalu menipu kan? Semakbelukar memang terlihat biasa-biasa saja. Sebelum saya menemukan bahwa ada sesuatu yang menarik dari band ini. Pada saat semua manusia bisa dibilang menuju ke arah yang semakin modern. Mereka malah memilih hal yang sangat kuno dan tradisional, dan mungkin ini yang luput dari kita. Ternyata sesuatu yang kuno itu terasa lebih modern dari apa yang disebut modern itu sendiri.

Namun, saya juga tidak begitu yakin itu satu-satunya alasan, barangkali sebagian dari kita hanya sedang bosan dengan musik saat ini yang sudah terlampau  biasa untuk telinga kita dan kita sekedar mencari alternatif lain dalam rangka pelarian untuk membunuh kebosanan itu. Saya tidak tahu, setidaknya itu adalah hal yang masih abu-abu. Saya memang belum yakin bahwa mendengarkan Semakbelukar adalah sebuah pengalaman religius, saya belum yakin. Entahlah setidaknya saya selalu punya waktu menikmati dendang mereka lewat earphone yang terpasang dilaptop. 

Selasa, 18 Maret 2014

Bagaimana Kamu Menghadapi Pengkhianatan?

Dulunya aku dan kamu selalu menertawakan semua semaunya. Kita memang tidak pernah mencoba memikirkan tentang perpisahan. Karena aku dan kamu telah membuat sebuah rencana yang selalu kita perbaharui dan revisi. Namun apalah dayaku juga dayamu dalam menghadapi keadaan. Seringkali kita harus menyakiti satu sama lain karena terlena oleh hal yang tak pernah kita harapkan.

Hidup selalu bisa menjelaskan semua, semua tentang ketidakpastian, semua tentang kegagalan. Waktu tak mungkin kita abaikan, situasi tak pernah dapat kita pastikan. Hanya hati mungkin yang dapat menuntun kita, untuk meyakini yang sejati itu. Atau mungkin hati lah juga yang menunjukkan kesalahan itu.

Barang tentu semua pengkhianatan akan meninggalkan sebuah dendam, dendam yang mungkin bertahan dalam hitungan hari atau dendam yang mungkin akan dipelihara sampai mati oleh pemiliknya. Yang kedua itu adalah hal yang sangat berbahaya bagi pemilik dendam maupun penyulut dendam. Dendam bisa saja mengubah seseorang menjadi apa yang sebelumnya tak terbayangkan.

Cinta itu banyak menimbulkan dendam dan luka, itu telah diyakini sebagian besar dari kita. Cinta seorang manusia tidak akan abadi, apapun itu tentang kisah Romeo dan Juliet. Jika janji adalah sebuah hutang, maka pengkhianatan adalah hutang yang dibawa mati. Hutang yang tak akan terpenuhi.

Sabtu, 15 Maret 2014

Tidak Akan Ada Hari yang Spesial

Selamat ulangtahun untuk diriku sendiri

Sejatinya ada yang layak ditebus dalam sebuah perjalanan usia, entah tentang kedewasaan atau kebijaksanaan. Bagi saya pertambahan usia adalah sebuah tuntutan untuk tak lagi banyak bermain, tak lagi banyak bersenang-senang. Hari ini, hari yang kemudian kusebut hari ulangtahun selalu menyingkap kesadaran-kesadaran lain. Bahwa di umur yang saat ini apa yang telah saya capai? Tidak banyak. Saya belum menghasilkan apapun dalam sebenar-benarnya sebuah ekspentasi atas seorang manusia.

Diusia saya yang saat ini dibelahan bumi lain pada masanya Bill Gates telah memulai mendirikan Microsoft atau yang lain Steve Jobs juga mendirikan Apple di usia saya saat ini. saya tidak melihat kesuksesan mereka saat ini sebagai sesuatu yang harus saya capai. Tetapi merupakan sebuah isyarat yang saya butuhkan bahwa diusia ini saya harus memulai melakukan sesuatu, entah apapun hasil yang akan saya dapatkan. Saya juga harus tetap rendah dan bersiap untuk kemungkinan terpahit sekalipun.

Barangkali saya bukan seperti kebanyakan orang yang selalu memaknai hari lahirnya sebagai sesuatu yang layak untuk dirayakan dan bersuka cita menyambutnya. Memperbuasnya dengan lagu selamat ulangtahun, beberapa pengharapan dan tiupan lilin. Saya tidak pernah atau mungkin belum pernah merasa suka cita seperti mereka dalam menyikapi hari lahir saya. memang barang tentu suka cita yang saya maksud sangat subjektif dan relatif. Sampai usia saat ini belum sekalipun saya merayakan hari ulangtahun. Iya, saya tidak mengada-ada. Bahkan seringkali dihari seperti ini saya agak bersedih, namun ada juga sedikit rasa syukur di lain sisi. Bahwa saya masih diberi hidup sampai usia ini. kesedihan yang sering saya rasakan bahwa umur saya bukannya semakin bertambah yang ada malah semakin berkurang.

Hari ini pun saya akan tetap melakukan hal-hal seperti biasa, minum kopi dipagi hari, merenung diwaktu dhuha, bersendawa seperlunya, membuang sampah, membaca buku sebelum tidur. Tidak akan ada yang istimewa hari ini, tidak ada ritual tiup lilin, dan saya tak pernah mengharapkannya. Cuma kesadaran mungkin yang akan berubah, usia hanya akan saya jadikan sebuah alasan untuk melakukan sesuatu hal yang lebih berguna dan lebih bijak. Rencana mungkin yang saya perlukan untuk mewujudkan keinginan yang ingin saya ungkapkan hanya kepada setan yang setia membuat saya malas dan ragu untuk melakukan suatu hal. ‘setan yang selalu bersetia menyertaiku, kali ini saya akan bersungguh-sungguh, aku tidak akan terlena oleh keraguan yang kau bisikkan, aku akan berbeda dari hari yang kemarin. Jika kau bersikeras tetap ingin mengangguku bekerjalah lebih keras, bila kau tidak keberatan lebih baik bantulah aku untuk memulai semua ini, juga bantulah aku untuk lebih dekat pada Tuhanku, jika itu mungkin tak memberatkanmu’.

Seberat-beratnya tantangan dalam hidup adalah masa dimana kita dalam proses keluar melintas batas dan merobohkan tembok yang mengkangkangi semua pengharapan. Barangkali kita cukuplah untuk menuai sebuah kerentanan dan butuh lebih dari sekedar keyakinan dan perhitungan dalam usaha pencapaiannya. Bersanding dengan perenungan hal-hal yang belum dicapai secara berkala hanya akan merusak  keyakinan itu sendiri, maka saya mencoba melupakan sebisanya. Kadang saya juga benci hari-hari seperti hari ini atau tahun baru, dimana saya diharuskan mengingat semua itu lagi, dimana seperti ketika tahun yang baru datang semua orang seperti akan menjadi orang yang baru yang lebih dari apa yang tidak sama sekali mereka harapkan, bahkan kadang itu dilakukan tanpa perubahan sikap dalam diri. Hanya sebuah omongan, atau mungkin ditutupi dengan kedok doa. Saya sebisanya juga tidak mau semunafik itu, walaupun penyangkalan pun menjadi tidak berarti ketika berhadapan dengan apa yang disebut sebagai sikap dasar seorang manusia adalah seperti itu.

Sabtu, 01 Maret 2014

Memaknai Nightswimming

Selera musik saya mungkin juga layaknya roda, kadang keras (butuh semangat) dan terkadang lembut bagaikan soft fur. Mungkin saya terjebak pada anggapan dikotomi saat itu, dimana semua harus imbang dan berpasangan. Yin dan Yang adalah dua sisi yang saling melengkapi. Jika malam-siang, kanan-kiri saya harus melengkapi sisi keras nan cepat itu dengan lembut dan mendayu-dayu. Ya kadang saya mendengarkan Semakbelukar, band melayu revolusioner yang sudah bubar itu. Kadang pula Pearl Jam. Dan malam itu mungkin waktu yang tepat untuk menjadi jinak dan diam.

Malam itu, malam yang membuat saya harus bertarung dengan kesendirian saya (sendiri dikosan). Waktu itu malam dan kesendirian hampir membuat saya gila. Saya membuang kesunyian dengan lagu dari R.E.M yang telah lama mengendap di laptop setelah berbulan lalu saya unduh. Beberapa lagu dari mereka sudah tidak asing ditelinga macam Man On the Moon dan Losing My Religion. Malam itu memang semua yang saya dengarkan adalah Greatest Hits Collection mereka. Ada 18 lagu.

Saya sedikit tersentak pada track terakhir yang saya dengarkan, kemudian saya mencoba mengulang lagu pada track yang sama. Setelah saya tahu judul lagu tersebut adalah Nightswimming. Saya berkata sendiri ‘apik cak lagune’. Tapi kenapa saya juga ingin berenang malam hari jadinya, sesuai judul lagu itu. Padahal saya tipe orang yang tidak kuat dingin. Untuk wudhu di malam hari jika mau melaksanakan sholat Isya’ pun rasanya seperti ditusuk dingin njengkut yang luar biasa.

Pada malam yang hampir mendekati seperempat itu memang ketika saya merasa tidak ada film yang perlu untuk ditonton, tidak ada buku yang wajib dibaca, dan lagu-lagu yang biasanya sudah terlalu ringkih untuk diputar. Maka saya memilih merebahkan badan sambil memutar lagu dari band yang belum banyak saya dengarkan ini.

Cinta, memori dan harapan meleleh menjadi satu dalam balutan balada melodi indah ketika mendengar Nightswimming.  Bagi saya Nightswimming seperti hujan dibatas kemarau setelah kebosanan saya saat itu. Bosan berteman sepi dan kopi, dan bahkan beberapa pesan singkat di handphone seperti hanya gabungan huruf tak bermakna. Bagaimana kadang lagu balada seperti ini seperti lebih buas dari dari lagu biasanya yang terdengar ditelinga.


Jumat, 14 Februari 2014

Suara Kami, Meski Agak Serak

Sejak awal Januari lalu desa tempat kelahiran saya sedang ribut-ribut terkait masalah PJ (Pengganti Jabatan) yang tak kunjung usai. Masa jabatan nomor satu desa lowong karena masa jabatan Kepala Desa Moh. Sarpin sudah habis, dan pemilihan masih akan dilakukan tahun depan. Saya sedang membicarakan desa Paringan, jika kalian ingin tahu tentang desa ini bisa lihat informasi  disini atau ini.

Akar masalah bermula ketika Camat memilih mengganti PJ dengan pilihannya sendiri, padahal sebelumnya warga desa Paringan sudah menyiapkan pengganti yang sesuai pilihan mereka, tetapi Camat malah memilih orang dari daerah Desa Sooko sebagai PJ tanpa sepengetahuan dan persetujuan warga. Ini yang membuat warga desa marah dan akhirnya melakukan demo pada 9 Januari lalu.



Saya yang pada pertengahan Januari lalu sempat pulang memang merasakan betul bagaimana atmosfer peristiwa ini begitu bergaung, saya selalu mendengarkan pembicaraan yang sama di banyak tempat, di warung-warung kopi, di antara tokoh desa yang sibuk menghadiri rapat, bahkan di tangkringan dekat gardu sebelah rumah saya.

Warga memang tidak main-main dengan masalah ini, sampai-sampai mereka menyegel Kantor Kepala Desa. Empat hari yang lalu, lihat ini, ini, dan ini.



Saya memang masih awam dan tak terlalu tahu tentang hal ini, namun dari beberapa pembicaraan yang saya dengar, saya menyimpulkan bahwa ini hanyalah perdebatan antara warga Desa Paringan dan camat yang punya senjata SK dari Bupati itu. Bahkan sebenarnya ini layaknya perang yang sulit dimenangkan oleh warga desa. Karena SK dari Bupati tentu saja akan sulit untuk dicabut. SK itu saya pikir terlalu kuat karena langsung keluar dari Bupati.

Tetapi kawan-kawan saya tahu kalian semua memegang prinsip bahwa hidup yang layak adalah dengan memberontak, tidak hanya adem ayem seperti yang lain. Mungkin desa sebelah selalu baik-baik saja, mungkin pula kita tak terlalu tunduk pada otoritas yang mengatur kita. Tapi kalian semua tidak seperti itu, kalian semua melakukan itu karena memegang nilai-nilai dan berontak karena telah ada yang menodai nilai yang selama ini kalian yakini itu. Mungkin kalian sudah terlalu fasih memaknai lagu Bongkarnya Iwan Fals.

Mengkritisi otoritas itu perlu, turun ke jalan itu perlu, jika memang jalur musyawarah yang selama ini dianggap sampah oleh mereka. Tidak perlu babibu, hanya lakukanlah aksi nyata seperti... ya mungkin menduduki kantor adalah hal yang tepat.


Kepada kalian Bago yang selalu menjadi koordinator aksi di Dusun kita, Kasbon yang rajin mengabarkan kepada kawan lain melalui media sosial, Tobing yang selalu di garda depan pada saat aksi nyata kita, si Jack juga, Ngarun juga, Rembyung juga dan warga Paringan secara umum yang telah kompak menyuarakan keberatan kita ini.

Rabu, 05 Februari 2014

Surat Terbuka Untuk Bapak Sutara Hendrakusumaatmaja

Bapak Sutara yang terhormat,

Bagaimana kabar Anda hari ini pak? Sehat? Alhamdulillah, semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kemuliaan bagi Bapak. Ngapunten bapak saya sudah berani-beraninya bikin tulisan semacam ini.

Sejujur-jujurnya memang kami semua kecewa dengan hasil Ujikom ini. Kami tidak tahu apakah setiap tahun memang seperti ini atau hanya angkatan kami yang mengalaminya tahun ini. Seburuk itukah angkatan kami sehingga kami semua harus mengulang ujian sampai tahap III. Apa memang dalam ujian kami harus menjawab semua soal dengan benar. Yang kami tahu sebelumnya kesepakatan nilai minimal adalah 65, atau memang Bapak punya sistem penilaian sendiri, kami tidak tahu. Mungkin juga ini konsekuensi akreditasi MAB yang A itu. Apakah benar begitu pak?

Bapak Sutara yang baik, tulisan ini tak bermaksud apapun. Hanya sebuah tanda tanya besar dalam benak kami. Kami atau saya secara subjektif tahu jikalau orang yang besar itu bukan orang yang rajin dan pintar mengulang pelajaran dikemudian hari. Tapi orang yang peka terhadapa lingkungan sekitar dan dapat menganalisis suatu keadaan lalu mengambil keputusan. Apalagi kompetensi Program Keahlian ini untuk mencetak seorang wirausaha. Seorang wirausaha mutlak harus memiliki kemampuan analisis yang mumpuni dengan mempertimbangkan semua aspek. Jika soal tempo hari nomor 1-6 memang menunjukkan pengulangan pelajaran biasa -hafalan-. Dan hafalan tidak akan ada artinya jika tidak membandingkan dengan analisis nyata. Mungkin itu yang Anda harapkan dari kami, bukan hanya dapat menghapal tetapi juga peka terhadap sebuah kejadian.

Lebih dari itu Bapak Sutara yang baik, saya tak bisa membayangkan bagi mereka-mereka yang sudah pulang ke kampung halamannya atau sudah membeli tiket. Ya mungkin itu memang salah mereka sendiri, kenapa berani-beraninya pulang padahal hasil ujian belum pasti. Tapi ya sesalah-salahnya orang masa tidak ada dispensasi. Karena manusia itu tempat salah dan hanya Allah yang sempurna. Bukan maksud untuk menggurui bapak, Maaf bapak ini saya kutip dari perkataan seorang kawan setelah melihat pengumuman Ujikom tahap II.

Bapak Sutara yang baik, sebenarnya semua ini tidak menjadi masalah bagi saya secara pribadi. Tapi tampaknya kawan-kawan lain tidak sependapat dengan saya. Mereka meluapkan kekesalan pada berbagai media sosial. Ada yang bernada kesal, marah, sebagian lagi bahkan dengan satire menyebut ini sebuah drama yang menegangkan dan mencengangkan. Tak apalah pak tak usah difikirkan, lagi pula niat Anda mulia, mengajarkan kami semua bahwa yang kami dapat selama ini belumlah cukup.

Barangkali mereka hanya merasa kecewa yang berlebihan pak, barangkali mereka hanya merasa layaknya kisah Sisifus itu. Bapak Sutara yang baik pernah mendengar cerita tentang Sisifus yang dikutuk untuk mengulingkan batu keatas bukit hanya untuk melihat batunya menggelinding kebawah. Bapak pernah merasa layaknya Sisifus? Dimana semua usaha yang dia lakukan hanya untuk kesia-siaan. Ini mungkin yang kami rasakan sekarang dimana belajar dengan sungguh-sungguh hanya untuk kesia-siaan. Kami sudah berusaha belajar sebisa mungkin untuk menghadapi ujian ini pak. Pada tahap II kami juga sudah mencoba memperbaiki jawaban soal yang salah. Benar sekali memang jika dikatakan bahwa kita belajar untuk kita sendiri, tapi kami perlu tahu nilai kami apakah memang dibawah standar 65 itu dan bukan hanya maklumat dua lembar didepan gedung akademik.


Oh ya, disini saya tidak bermaksud untuk mencari kesalahan Anda kok pak. Barangkali kita memang perlu mencontoh bapak, bapak Sutara yang masih dengan semangat tanpa keluh kesah mencoba membimbing kami. Bapak bisa saja meluluskan kami semua dan lalu bersantai-santai dirumah. Tidak perlu berpikiran ini itu lagi untuk mengurusi kami yang seangkatan ini untuk ujian-ujian tahap selanjutnya. Tapi itu tidak Bapak lakukan karena tahu bahwa anak-anak didiknya masih perlu bimbingan sebelum terjun ke masyarakat yang dalam hal ini adalah PKL. Terimakasih sebelumnya Bapak.

Selasa, 04 Februari 2014

Kisah Saya dan Seorang Philips

Pertama kali kalian mendengar nama Husna pasti kalian akan menyangka bahwa dia seorang perempuan. Tapi setelah membaca nama panjangnya Husna Alliyus Dwi Karisma selanjutnya kalian juga akan bertanya ini cewek apa cowok? Tapi nyatanya dia adalah seorang lelaki, yang jantan, yang normal, yang tampan, yang suka banget Maudy Ayunda (uppsss).

Ini foto yang saya curi dar FB nya, pake jaket saya :D


Aneh sekali bahkan jika memangilnya pun dengan panggilan ‘hus’ (sebagian besar temannya memanggil dengan panggilan ini), ‘hus, kamu mau kemana?’, ‘hus, kamu sudah gila ya?’ layaknya ngurak pitik atau sebagai bentuk bungkaman karena telah berkata tidak sopan dalam bahasa jawa ‘hus, omonganmu seng apik’ . Sebelum tahun ini saya sudah 2 tahun satu kontrakan dengan dia, mendengarkan humornya yang garing, memasak nasi bersama di satu rice cooker berlumut, dan berbagi-sempak.

Husna Alliyus merupakan penggemar Liverpool yang sering membanggakannya dan sering sakit hati jika diejek oleh fans rival semisal MU, Chelsea. Beberapa waktu lalu dia sampai berkata ‘saiki panganen pendukung e MU, biyen lek omong koyo-koyo o’ itu intinya yang sedikit saya simpangkan karena lupa kata-kata otentik yang keluar dari dia. Dia sering maen PES dengan saya walaupun dia tidak pernah mengakui kekalahannya. Maaf karena membuat Liverpool kalah hanya karena melawan Genoa atau Parma, bukan melawan Joker ku AC Milan.

Husna juga membuat nama kecilnya sendiri, dan betapa epic namanya -Philips-. Di akun twitternya bisa dilihat ini. Nama itu tertulis hampir di semua sisi kehidupannya, nama user di komputernya, nama emailnya, di facebooknya yang dulu (sekarang sudah berganti nama) dan juga pada nama-nama lain yang tidak mengharuskan menggunakan nama asli, dia pasti akan memakai nama ini. Dari nama itu dia hendak menyamakan dirinya sendiri dengan jempol kakinya pangeran Philips. Suatu waktu juga ingin saya katakan bahwa Pangeran Philips itu sudah tua, bahkan sudah meninggal beberapa waktu lalu. Ya saya mengurungkan mengatakan semua itu.

Sering sekali bahkan terlampau sering dia berkeluh kesah ria dalam menghadapi kehidupan, saya dan dia memang sering berdiskusi tentang kehidupan ini, tentang uang jajan yang pas-pasan, tentang kehidupan yang bahkan tak satu setanpun mau mengetahuinya. Seringnya pada akhir cerita kami saling lempar-melempar kata-kata bijak dari kesimpulan yang dibicarakan. Tak jarang kami juga berdiskusi tentang cinta. Untuk yang terakhir ini pasti dia akan merasa sangat sentimentil dan terlihat uring-uringan, dia sering sekali mengalami kegagalan dalam soal ini. Padahal soal wajah dia tampan, kurang apa coba?

Saya hampir mengikuti semua kisah cintanya yang gagal selama dua tahun dikontrakan yang lama. Dia selalu hampir berhasil meraih hati gadis pujaannya sampai akhirnya dia menyadari banyak hal yang membuatnya tak akan berhasil. Entah karena si cewek tidak mau untuk sekedar sms duluan atau dia takut mengalami penolakan.


Ada sebuah kisah menarik sebenarnya antara bunga mawar putih, rapat, dan parfum pada malam itu. Namun saya tidak akan menceritakannya disini, ini personal dan saya takut dia akan tersinggung nantinya. Ini aib? Ah, itu berlebihan tidak seburuk itu, ini mungkin sebuah kesalahan jika aib terlalu kasar. Bahkan suatu hari saya hampir menilai kisah cintanya layaknya kisah Sisifus, cerita dalam mitologi Yunani itu. Saya ikut senang akhirnya sekarang ini dia menemukan juga apa yang dia cari, perempuan yang mungkin benar-benar tepat bagi dirinya, pacarnya sekarang –yang saya tahu masih sering memanggil kak daripada yank itu-. Hehe, maaf kawan.