Saya miris ketika membaca sebuah artikel tentang
betapa mahasiswa saat ini terkesan tidak berani menyuarakan nasib rakyat.
Mahasiswa jarang bergerak melakukan aksi-aksi. Padahal mahasiswa merupakan agen
perubahan. Mantan aktivis 98 pun ikut angkat bicara, Bona Ventura
mengatakan "ada yang salah dalam proses elaborasi dan gagasan bergerak
diantara mereka". Saya malu, saya benar-benar malu pada diri saya sendiri.
Kami tidak mampu mewakili rakyat yang tertindas, kami tidak mampu menekan
pemerintahan. Siapapun tahu situasi saat ini tak lebih baik dari tahun 98.
Rakyat belum sejahtera, korupsi dimana-mana, hukum belum tegak dan
anjing-anjing kapitalis kian merajalela. Tapi apa yang telah kita lakukan? Nothing?
Sabtu, 16 Maret 2013
Selasa, 19 Februari 2013
Yang Saya Agungkan Sebelum Terlupa
"without music, life would be a mistake"
Friedrich Nietzche
Music is the great thing. Tak berlebihan rasanya kalimat
tersebut, musik memang hal yang luar biasa. Saya melihat banyak orang mempesona
dengan permainan musiknya. Dan saya tahu persis saya bukan bagian "orang
mempesona" itu. sampai saat ini saya tak pernah bisa memainkan satu alat
musik pun, mungkin karena saya tak pernah mendalami salah satunya. Saya pernah
belajar main gitar, bass, seruling, dan satu hal yang pasti saya tak pernah
mendalaminya. Belum punya passion dengan semua itu atau memang saya tak punya
bakat musikalitas.
Minggu, 17 Februari 2013
Olden
When i feel the day is so bad
I don't think something about you
Right now, i'm a people that supposed be
Don't try to looking back, don't know if i'm ready
It will be a long day when i couldn't find someone
Someone to advice my wrong life
I start to be the man i have to be
I'm not sure someday will go somewhere
So far away from my little home
I hope you don't reason to come home
But, i only the boy 19 years old
Fighting the damn memories about you
Selasa, 27 November 2012
Kenangan Ini Makin Mengganas
Untuk Purnomo a.k.a Chikung
Aku menulis ini untukmu kawan, atas nama kenangan, meski tak panjang. Sebagai simbol atas semua yang pernah kita alami dalam setiap malam ataupun siang yang terik. Aku menulis ini dalam keadaan setengah mengantuk dan diterik siang pula. Maaf bila sedikit ngelantur. Tulisan ini tidak hanya untuk menunjukkan bahwa aku tetap mengingatmu, namun untukku ini lebih dari sebuah surat yang mengabarkan bahwa aku ingin menikmati tertawa-tawa bersama lagi dalam kehidupan kelabu personal kita dulu. Aku tetap menyimpan saat tawa kita bersama dalam lembaran ini. Aku tau kau disana sedang bekerja keras menggapai mimpimu yang dahulu pernah kau katakan di sore penghabisan bulan April beberapa tahun lalu. Aku yakin kau tetap ingat bahwa kau selalu bersedia membantu kawan lain walaupun kau menghadapi hidup sama busuknya dengan mereka.
Aku menulis ini untukmu kawan, atas nama kenangan, meski tak panjang. Sebagai simbol atas semua yang pernah kita alami dalam setiap malam ataupun siang yang terik. Aku menulis ini dalam keadaan setengah mengantuk dan diterik siang pula. Maaf bila sedikit ngelantur. Tulisan ini tidak hanya untuk menunjukkan bahwa aku tetap mengingatmu, namun untukku ini lebih dari sebuah surat yang mengabarkan bahwa aku ingin menikmati tertawa-tawa bersama lagi dalam kehidupan kelabu personal kita dulu. Aku tetap menyimpan saat tawa kita bersama dalam lembaran ini. Aku tau kau disana sedang bekerja keras menggapai mimpimu yang dahulu pernah kau katakan di sore penghabisan bulan April beberapa tahun lalu. Aku yakin kau tetap ingat bahwa kau selalu bersedia membantu kawan lain walaupun kau menghadapi hidup sama busuknya dengan mereka.
Minggu, 07 Oktober 2012
Ode On The Other Side
Alright, setelah mati lampu dan memasanaskan air
untuk membuat secangkir kopi kapal api yang entah punya siapa sejak kemarin
tergeletak dimeja samping galon. Saatnya menulis lagi, tapi ampun hari ini
sinyal hape ikut-ikutan ngajak ribut, mungkin karena hujan, mungkin juga karena
mati lampu. Ah dari mana analisis itu datang? Mengaitkan keadaan yang terjadi
ke sesuatu yang lain. Hal itu mengingatkan saya pada hari-hari 2 tahun lalu, dimana seorang kawan saya yang
paling sering mengajak saya debat. Ratusan kali saya beradu argumen dengan dia,
bahkan dalam percakapan itu dia sering membawa-bawa soal agama. Dan itu terjadi
dan terjadi lagi, saya pasti kalah jika hal itu sudah dibawa kepermukaan karena
jika melanjutkan percakapan ini pasti akan ada yang tersinggung. Makanya saya
selalu menghindarinya dan lebih memilih diam. Terserah dia mau bilang saya
kalah, kehabisan akal, dan mungkin terlalu lelah. Sayangnya mungkin alasan
terakhir itu tak pernah terfikirkan olehnya. Dia memang pandai bicara walaupun
tak mengerti betul tentang sebuah teori, kepandaiannya dalam berbicara selalu
menutupi semua itu. harusnya saya banyak berterimakasih dengan dia, karena dia
mengajarkanku tentang membuat segalanya tampak mungkin, bahkan dari sekedar tidak
mengerti apapun menjadi sok mengerti. Mengajarkan bahwa segalanya mungkin
bahkan dengan keidakmungkinan itu sendiri. Thanks
for the damn memories who make me like a king of fool. Remember!! Someday i'll
be back to kill your mind. Isn't a nice joke? hahaha
Rabu, 26 September 2012
Akhir September dan Ritual Membosankan
Bulan ke 9 dalam tahun ini sudah hampir berakhir.
Banyak cerita yang sempat saya ingat maupun tak sempat saya agungkan sama
sekali. Selain ribut-ribut tentang pemilu gubenur DKI Jakarta dan tentang
tawuran anak-anak SMA, tak ada yang lebih menggemparkan (baca:membosankan)
layar televisi kontrakan. Saya memang tak ingin ambil pusing. Karena memang tak
ada yang bisa saya lakukan, selain mematikan tv dan tidur diruang tamu tanpa
alas sehelai pun. Saya memang orang super munafik yang tak pernah mau untuk
sekedar dimanfaatkan. Bahkan untuk hal-hal yang menyangkut tujuan bersama.
Alasan saya jelas dan fundamental, kita semua disini sejajar tak ada yang lebih
baik atau paling baik. Satu sisi dalam hati saya sebenarnya ingin seperti dulu,
berbagi cerita bersama kawan-kawan disore hari di depan SD inpres era Soeharto.
Tapi memang itu sudah lagu lama, dan saya bukanlah orang yang mudah menangis
dan memperbuas kenangan masa lalu. Itu mungkin penjelasan kedua betapa munafik
saya.
Rabu, 05 September 2012
Catatan Kecil untuk Kotrek
Suaramu terdengar kembali beberapa hari lalu ketika
seorang kawan menelfon dan menyambungkan ke nomermu. Kau bilang kau merindukan
hal-hal yang pernah kita lakukan dulu. Kau tahu? Aku juga menantikan hal itu
datang kembali walau jelas aku tahu kau dan aku sudah banyak berubah, tak se-absurd dulu. Kau bilang hal seremeh yang
kita lakukan akan terkenang suatu saat nanti, katamu dahulu sekali. Damn, you life your words, all memories is still our mine. Kita
dulu menjadi bagian sebuah komunitas yang bahkan belum terfikirkan namanya.
Kita hanya terus berjalan, terus mengalir dan terus-terusan melakukan sesuatu
yang tak main-main. Sedikit menantang aparat yang razia. Kita begitu beruntung
tak pernah berjodoh dan naik mobil patroli mereka. Kau kini telah menempuh
jalan yang kau pilih. Aku yang bertanya tentang kepulanganmu pun jarang kau
menjawabnya. Catatan ini tak akan kubuat sepanjang catatan pemberontakan dengan
analisis dangkal kebanyakan. Karena ini
memang merupakan catatan personal walaupun aku merasa banyak orang membaca ini.
Aku hanya ingin mengabarkan padamu bahwa kau tak sendirian menginginkan hal
yang dulu datang kembali. Kebersamaan itu penting mirip lagunya Slank yang
berjudul 'makan ga makan asal ngumpul'. Memang seperti kebanyakan omongan
klasik dimana susah, sedih, senang kita lewati bersama. Aku tahu sampai saat
ini kau masih penasaran dan ingin melanjutkan Resident Evil. Aku ingin
mengabarkan padamu bahwa game itu ternyata telah diselesaikan oleh Yudi, dengan
level hard pula. Memang sialan. Aku ingat ketika dulu kau bermain dan bingung
menemukan jalan menuju level berikutnya dan lalu kau memutuskan untuk berhenti
bermain untuk beberapa hari. Haha, wujud protes yang sungguh sangat amat bodoh.
Langganan:
Postingan (Atom)